Sabtu, 2 Mei 2026
Daerah  

Jelang Idul Fitri, Inflasi Sulawesi Tengah Berpotensi Naik, Ini Langkah TPID

Wagub Reny
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, saat membuka Rakorda TPID se-Sulteng di Gedung Pogombo, Palu, Kamis (26/02/26). FOTO: Biro Adpim Pemprov Sulteng

PALU,netiz.id — Menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah, inflasi Sulawesi Tengah berpotensi kembali meningkat seiring naiknya kebutuhan masyarakat dan tekanan harga sejumlah komoditas pangan.

Hal itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Sulteng yang digelar secara hybrid di Gedung Pogombo, Kamis (26/02/26).

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, mengingatkan seluruh TPID kabupaten/kota agar memperkuat langkah antisipatif guna menjaga stabilitas harga, khususnya menjelang periode Ramadan hingga pasca-Idul Fitri.

“Menjelang Idul Fitri biasanya terjadi peningkatan konsumsi masyarakat, termasuk kenaikan harga tiket transportasi. Ini perlu kita antisipasi bersama agar inflasi tetap terkendali,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pada Januari 2026 inflasi Sulawesi Tengah kembali bergerak naik dari ambang batas yang ditetapkan, setelah pada Desember 2025 sempat ditekan hingga berada di level toleransi 3,5 persen.

Menurutnya, perubahan cuaca ekstrem turut memengaruhi produksi pangan di daerah ini. Kondisi tersebut berdampak pada kenaikan harga komoditas volatile food seperti bawang, cabai, ikan laut, telur, dan beras.

Selain faktor cuaca, perilaku masyarakat yang cenderung meningkatkan pembelian emas dalam beberapa waktu terakhir juga dinilai memberi andil terhadap tekanan inflasi daerah.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhammad Irfan Sukarna, menambahkan bahwa dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan di Sulteng, tetapi juga di sejumlah provinsi tetangga.

Kelangkaan stok pangan di daerah sekitar mendorong peningkatan permintaan pasokan dari Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah produsen pangan. Kondisi ini berpotensi menyebabkan tingginya arus keluar barang, yang jika tidak dikendalikan dapat memicu kelangkaan stok dan kenaikan harga di dalam daerah.

Untuk itu, TPID se-Sulteng diminta memperkuat implementasi strategi 4K, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Langkah konkret yang disiapkan antara lain mengintensifkan inspeksi mendadak (sidak) pasar, pelaksanaan pasar murah, optimalisasi neraca pangan, penguatan rantai distribusi, serta memperluas kerja sama antar daerah.

Dengan strategi tersebut, pemerintah daerah optimistis inflasi Sulawesi Tengah dapat kembali melandai dan tetap berada dalam ambang batas yang terkendali selama periode Ramadan hingga pasca-Idul Fitri.

“Harapan kami pada bulan Maret inflasi Sulawesi Tengah bisa lebih melandai,” tutupnya. (KB/*)