Sabtu, 2 Mei 2026

Warga Dusun III Baturoko Donggala Demo Soal Air Bersih, Anggaran Rp60 Juta Dipertanyakan

Baturoko Lalombi Donggala
Warga Dusun III Baturoko, Desa Lalombi, Kecamatan Banawa Selatan, Donggala, mengembalikan tandon air ke kantor desa sebagai bentuk protes atas belum berfungsinya fasilitas air bersih. FOTO: istimewa

DONGGALA,netiz.id – Warga Dusun III Baturoko, Desa Lalombi, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala, menggelar aksi demonstrasi terkait persoalan air bersih yang hingga kini belum terselesaikan. Dalam aksi yang berlangsung pada Senin (27/04/26) itu, masyarakat mempertanyakan penggunaan anggaran sebesar Rp60 juta yang sebelumnya dialokasikan untuk pembangunan fasilitas air bersih.

Warga menilai proyek tersebut tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Sejumlah tandon air yang dibangun di beberapa titik lokasi hanya berdiri kosong tanpa adanya aliran air yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Kondisi ini memicu kekecewaan warga karena hingga saat ini mereka masih mengalami kesulitan mendapatkan akses air bersih yang layak. Padahal, air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat.

Koordinator aksi, Fahmid, mengatakan bahwa masyarakat menuntut pemerintah desa untuk segera memenuhi hak warga atas air bersih dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek pembangunan tersebut.

“Kami meminta pemenuhan akses air bersih yang layak untuk masyarakat serta evaluasi terhadap semua pihak yang ikut terlibat dalam pembangunan air bersih ini. Anggaran sudah ada, tetapi hasilnya tidak dirasakan masyarakat,” ujar Fahmid.

Sebagai bentuk protes, warga bahkan mengembalikan tandon air ke kantor desa. Langkah itu dilakukan sebagai simbol kekecewaan terhadap proyek yang dianggap gagal dan tidak sesuai harapan masyarakat.

Selain mempertanyakan penggunaan anggaran Rp60 juta yang dianggarkan pada tahun 2024, warga juga meminta transparansi dari pemerintah desa terkait pengelolaan dana transportasi dalam proyek air bersih tersebut.

Fahmid juga menyoroti sikap pemerintah desa yang dinilai baru merespons setelah masyarakat melakukan aksi protes. Menurutnya, undangan rapat terkait persoalan air bersih baru disebarkan pada hari yang sama saat aksi berlangsung.

“Sebenarnya kami ini seperti diadu domba. Setelah masyarakat melakukan aksi, baru pihak pemerintah desa menyebarkan undangan rapat terkait air bersih,” tegasnya.

Warga berharap persoalan ini segera diselesaikan agar kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih tidak terus diabaikan dan proyek yang telah menggunakan anggaran desa benar-benar memberikan manfaat nyata. (KB)