Minggu, 5 Juli 2026

Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Ajak Mahasiswa Perkuat Nasionalisme dengan Ketahanan Pangan, Energi, dan Teknologi

Menteri Nusron Wahid
Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid, menyampaikan materi bertajuk “Nasionalisme Abad ke-21” di hadapan peserta Diklat Pratama se-Indonesia Angkatan I DPP GMPK di Bogor, Jawa Barat, Rabu (01/07/26). FOTO: istimewa

BOGOR,netiz.id – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mengajak mahasiswa untuk membangun nasionalisme yang relevan dengan tantangan abad ke-21 melalui penguatan ketahanan pangan, kemandirian energi, dan penguasaan teknologi.

Pesan tersebut disampaikan Nusron Wahid saat menjadi keynote speaker dalam Pembukaan Diklat Pratama se-Indonesia Angkatan I yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Pelajar Kebangsaan (DPP GMPK) di Bogor, Rabu (01/07/26).

Menurut Nusron, nasionalisme tidak cukup hanya dipahami sebagai semangat cinta tanah air, tetapi harus diwujudkan melalui kemampuan bangsa menghadapi persaingan global yang semakin kompleks.

“Tujuan nasionalisme adalah menjadikan kita bangsa yang kuat. Namun, kalau kita tidak memahami seperti apa bangsa yang kuat, kita akan keliru mendefinisikan format nasionalisme yang ingin kita bangun,” ujar Nusron.

Dalam pemaparannya yang bertajuk Nasionalisme Abad ke-21: Menjawab Tantangan Radikalisme, Perang Ekonomi, dan Perebutan Pengaruh Global, ia menjelaskan bahwa ukuran kekuatan sebuah negara saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh sistem pemerintahan atau kekuatan militer semata. Kemampuan bertahan dan bersaing dalam menghadapi tantangan global menjadi faktor utama yang menentukan posisi suatu bangsa.

Mengutip teori dari John Mearsheimer, Nusron menegaskan bahwa negara yang kuat harus ditopang oleh tiga pilar penting, yakni ketahanan pangan, kemandirian energi, dan penguasaan teknologi.

“Jangan hanya berbicara nasionalisme, tetapi bangun ketahanan pangan, kemandirian energi, dan kemampuan menguasai teknologi. Tanpa itu, bangsa akan mudah bergantung kepada negara lain,” tegasnya.

Nusron menilai, ketiga pilar tersebut hanya dapat diwujudkan apabila Indonesia memiliki sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing tinggi. Karena itu, mahasiswa sebagai kelompok intelektual memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan masa depan bangsa.

Di hadapan Sekretaris Dewan Pembina DPP GMPK, H. Chusni Mubarok, dan sekitar 200 peserta diklat, Nusron berpesan agar mahasiswa terus meningkatkan kapasitas intelektual serta memperluas wawasan kebangsaan.

Ia meyakini bahwa perubahan besar dalam sejarah dunia selalu diawali oleh kebangkitan kaum intelektual. Oleh sebab itu, pola pikir mahasiswa saat ini akan menentukan kualitas kepemimpinan Indonesia pada masa mendatang.

“Ketika cara berpikir mahasiswa sudah benar, maka saat mereka menjadi birokrat, politisi, pengusaha, maupun profesional, cara berpikir itu akan ikut membentuk kemajuan bangsa,” pungkasnya. (KB/*)