Minggu, 3 Mei 2026
Daerah  

800 ASN Nasrani Ikuti Retret di Palu, Ini Pesan Penting Gubernur Sulteng

Gubernur Sulteng, Anwar Hafid
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid didampingi Wakil Gubernur dr. Reny A. Lamadjido saat membuka retret ASN Nasrani di Gereja GPID Jemaat Pniel, Palu, Selasa (10/02/26). FOTO: Biro Adpim Pemprov Sulteng

PALU,netiz.id — Sebanyak 800 aparatur sipil negara (ASN) Nasrani di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengikuti kegiatan retret yang digelar di Gereja GPID Jemaat Pniel, Jalan Cik Ditiro, Palu, Selasa (10/02/26). Kegiatan tersebut secara resmi dibuka Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid.

Gubernur hadir didampingi Wakil Gubernur Sulteng dr. Reny A. Lamadjido dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulteng Novalina. Retret lanjutan itu diikuti pejabat eselon II, III, dan IV, serta PNS dan PPPK beragama Kristen di lingkungan Pemprov Sulteng. Kegiatan tersebut dikoordinatori oleh Dr. Adiman.

Turut hadir Ketua Jemaat GPID, pimpinan Gereja Katolik Palu, serta para tokoh gereja dan pemuka umat Nasrani.

Gubernur Anwar Hafid menekankan pentingnya kesadaran iman sebagai fondasi utama dalam meningkatkan kinerja aparatur. Menurutnya, retret bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi merupakan metode penguatan kepemimpinan yang juga dikenal dalam manajemen modern dan tradisi militer.

“Retret adalah momentum untuk mundur sejenak, melakukan refleksi, mengevaluasi, lalu kembali melangkah dengan strategi yang lebih matang. Prinsip ini relevan dalam kepemimpinan dan pemerintahan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan retret di rumah ibadah dilakukan bukan hanya karena efisiensi, tetapi juga karena tempat ibadah dinilai paling tepat untuk membangun kesadaran batin dan moral seorang pemimpin.

“Kalau di rumah ibadah saja seorang pemimpin tidak memiliki kesadaran, maka di tempat lain akan lebih sulit. Kesadaran teologis adalah fondasi utama yang melahirkan kesadaran sosial dan ilmiah, serta berdampak langsung pada kualitas kinerja,” tegasnya.

Anwar Hafid menambahkan, kesadaran iman akan mendorong ASN bekerja bukan karena pengawasan, melainkan karena tanggung jawab moral dan keyakinan bahwa Tuhan menyertai setiap tugas dan keputusan.

“Kinerja Provinsi Sulawesi Tengah sudah baik, tetapi kita tidak ingin berhenti di situ. Kita ingin kinerja yang luar biasa, dan itu hanya bisa dicapai jika kesadaran iman dan integritas benar-benar hidup dalam diri setiap ASN,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia menunjukkan bangsa ini dibangun bukan dengan kekuatan senjata modern, melainkan dengan keyakinan, keberanian, dan pertolongan Tuhan. Nilai tersebut, menurutnya, perlu kembali dihidupkan dalam birokrasi dan kepemimpinan.

Retret ASN Nasrani ini akan dilanjutkan dengan keterlibatan tenaga fungsional pada hari berikutnya hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berkomitmen menjadikan retret sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam membangun karakter, integritas, dan kinerja aparatur. (KB/*)