PALU,netiz.id – Konflik agraria yang selama ini menjadi salah satu persoalan paling kompleks di Sulawesi Tengah kini menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Tadulako (Untad). Melalui program Magang Mandiri Berdampak di Sekretariat Satgas Penyelesaian Konflik Agraria (PKA) Sulawesi Tengah, tujuh mahasiswa mendapatkan kesempatan memahami secara langsung dinamika sengketa lahan yang melibatkan masyarakat, pemerintah, hingga korporasi.
Bertempat di Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, para mahasiswa tidak hanya menjalankan tugas administratif. Mereka terlibat dalam proses dokumentasi, digitalisasi data, hingga mempelajari berbagai laporan konflik agraria yang masuk ke Satgas PKA.
Di bawah pendampingan Dr. Ansar Saleh, para peserta magang diajak melihat realitas persoalan agraria dari perspektif yang lebih luas. Jika selama ini teori hukum agraria hanya dipelajari di ruang kuliah, kini mereka berhadapan langsung dengan berbagai kasus yang menyangkut hak hidup masyarakat atas tanah dan sumber daya alam.
Salah satu peserta magang, Siti Aliza, mengungkapkan bahwa dirinya bersama rekan-rekan mahasiswa bertugas menyusun ringkasan kasus dan memperbarui data penanganan sengketa lahan agar dapat diakses masyarakat melalui portal resmi Satgas PKA.
“Kami menyusun ringkasan kasus agar masyarakat bisa memantau perkembangan laporan mereka secara langsung melalui portal resmi Satgas,” ujar Siti pada Senin (30/03/26).
Menurutnya, pekerjaan tersebut bukan sekadar kegiatan administrasi, melainkan bagian dari upaya mewujudkan transparansi penanganan konflik agraria di Sulawesi Tengah.
Melalui sistem digital yang terus diperbarui, masyarakat dari berbagai daerah, mulai dari Morowali hingga Banggai, dapat mengetahui perkembangan kasus yang mereka laporkan tanpa harus menunggu informasi secara langsung dari instansi terkait. (KB/*)





