Minggu, 3 Mei 2026
Daerah  

Dinilai Tak Sejalan Semangat Kolegialitas, Wim Kritik Wacana Reshuffle HIPMI

Abdurahim Nasar Al-Amri
Anggota DPRD Kota Palu, Abdurahim Nasar Al-Amri. FOTO: TIM

PALU,netiz.id – Salah satu kader Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Abdurahim Nasar Al-Amri, mempertanyakan wacana reshuffle kepengurusan yang dilontarkan oleh salah satu kader HIPMI Kabupaten Banggai Laut. Menurutnya, wacana tersebut terkesan tergesa-gesa dan tidak mencerminkan semangat kolegialitas yang seharusnya dijaga dalam tubuh HIPMI.

Ketua Komisi C DPRD Kota Palu yang akrab disapa Wim ini menilai, Fathur Razaq selama ini aktif berkontribusi dalam setiap kegiatan HIPMI Sulawesi Tengah. Keaktifannya tidak hanya sebagai Bendahara Umum, tetapi juga sebagai sosok yang peduli terhadap pengembangan organisasi dan pemberdayaan anak muda lintas sektor.

Ia menyayangkan jika hanya karena ketidakhadiran dalam satu atau dua agenda, kemudian muncul opini yang mendorong reshuffle. “Kita harus objektif dalam menilai kontribusi kader. Jangan sedikit-sedikit main goreng isu. Apalagi kalau yang bersangkutan selama ini justru aktif dan hadir dalam hampir semua agenda penting HIPMI,” tegas Wim sapaan akrabnya.

Wim menilai, cara berpikir seperti itu tidak sehat dan hanya akan menciptakan kegaduhan internal yang tidak perlu. “Jangan sedikit-sedikit lempar isu reshuffle. HIPMI ini organisasi besar yang marwah dan soliditasnya harus dijaga. Kita seharusnya saling menguatkan, bukan mencari celah untuk saling menjatuhkan,” lanjutnya.

Menurut Wim, reshuffle dalam organisasi tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada mekanisme formal yang harus dilalui, termasuk evaluasi internal dan pembahasan dalam forum resmi organisasi. 

“Jangan hanya karena ada sedikit dinamika lalu buang-buang isu ke media. HIPMI bukan organisasi jalanan yang pengurusnya bisa diganti berdasarkan opini sepihak,” katanya.

Ia juga menyoroti bahwa masih ada kader yang minim kontribusi namun tetap dipertahankan dalam struktur kepengurusan, karena pertimbangan organisasi dan mekanisme internal yang harus dihormati. 

“Kalau cuma soal keaktifan, banyak juga yang jarang muncul. Tapi bukan berarti langsung diganti. Harus ada proses dan evaluasi yang objektif. Jangan jadikan reshuffle sebagai alat politik untuk kepentingan sesaat,” ujarnya.

Wim mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi pengusaha muda saat ini jauh lebih besar daripada sekadar dinamika internal. Dibutuhkan semangat kolaborasi, kepercayaan antar kader, dan konsistensi dalam berkegiatan agar HIPMI tetap menjadi rumah besar bagi tumbuhnya potensi anak muda di Sulawesi Tengah. (KB/*)