Sabtu, 2 Mei 2026
Daerah  

Hadapi Arus Hoaks, AMSI Latih 18 Jurnalis Indonesia Timur Produksi Video Cek Fakta

AMSI
Foto bersama peserta dan narasumber pelatihan “Media Sosial untuk Cek Fakta” yang digelar AMSI bekerja sama dengan Internews dan didukung Uni Eropa di Nusa Dua, Bali, 13–14 Februari 2026. FOTO: istimewa

BALI,netiz.id — Di tengah derasnya arus hoaks dan perubahan pola konsumsi informasi yang kian mengarah ke format video, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) melatih 18 jurnalis dari kawasan Indonesia Timur dan Indonesia Tengah untuk memproduksi konten video cek fakta.

Pelatihan bertajuk “Media Sosial untuk Cek Fakta” ini digelar pada 13–14 Februari 2026 di Hotel Crystal, Nusa Dua, Bali. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama AMSI dengan Internews dan didukung oleh European Union.

Pelatihan dibuka oleh Dr. Ni Made Ras Amanda G dari Majelis Etik AMSI Bali. Ia menegaskan bahwa media tidak cukup hanya beradaptasi secara teknis mengikuti tren video, tetapi juga harus tetap berpegang pada prinsip dasar jurnalisme.

“Di tengah arus disinformasi yang menyebar begitu cepat serta perubahan perilaku publik yang kini lebih banyak menonton daripada membaca, pelatihan ini menjadi jawaban konkret untuk memperkuat kapasitas produksi konten video sekaligus meneguhkan komitmen pada jurnalisme yang akurat, terverifikasi, independen, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Selama dua hari, peserta dibekali pemahaman tentang evolusi misinformasi, disinformasi, dan malinformasi di ruang digital. Materi mencakup teknik open-source intelligence (OSINT), verifikasi fakta berbasis digital, analisis narasi, hingga strategi storytelling agar konten cek fakta lebih relevan dan menjangkau audiens secara efektif.

Pada hari pertama, pelatihan menghadirkan Nurika Manan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia serta Eviera Paramita Sandi, Koordinator Suara.com Bali. Peserta juga mempraktikkan penggunaan berbagai perangkat pemeriksaan fakta, mulai dari verifikasi foto dan video, forensik situs web dan domain, hingga deteksi hoaks berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam format teks, gambar, audio, maupun video.

Memasuki hari kedua, pembahasan difokuskan pada peran pemeriksa fakta sebagai bagian dari perlindungan hak asasi manusia, pentingnya etika dan sensitivitas konteks, serta produksi konten cek fakta dalam format multiformat yang adaptif di berbagai platform.

Eviera Paramita Sandi menekankan bahwa konten video kini menjadi arus utama di media sosial. Karena itu, media harus mampu menarik perhatian audiens sejak detik pertama melalui teknik hook yang kuat, pemilihan sudut cerita yang tepat, hingga strategi distribusi di platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube.

Pelatihan ditutup dengan praktik produksi video cek fakta yang kemudian dibedah bersama para pelatih guna memperoleh umpan balik konstruktif.

Ke depan, AMSI akan melanjutkan program ini melalui skema fellowship yang dijadwalkan berlangsung pada Maret–April 2026. Program tersebut diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem informasi yang akurat dan bertanggung jawab, khususnya di kawasan Indonesia Timur dan Indonesia Tengah yang kerap menjadi sasaran peredaran hoaks digital. (KB/*)