Dalam dunia yang terus berkembang, di mana perubahan teknologi dan budaya begitu cepat, penting bagi kita untuk tetap mengingat dan menghargai warisan budaya yang telah membentuk bangsa ini. Salah satu cara yang dinilai efektif untuk menjaga semangat nasionalisme adalah dengan membangun kebiasaan menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap pagi, baik di kantor, perusahaan, maupun komunitas. Hal ini disuarakan oleh Ketua Umum Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs), Kawendra Lukistian, yang memiliki pandangan jauh ke depan mengenai pentingnya memperkuat ekonomi kreatif dan menjaga identitas kebangsaan.
Menjaga Semangat Kebangsaan Melalui Kebiasaan Sehari-hari
Penyanyian lagu Indonesia Raya setiap pagi, bagi Kawendra Lukistian, bukan hanya sekadar sebuah rutinitas atau formalitas. Menurutnya, hal ini memiliki makna yang dalam dan bisa menjadi alat pengingat yang efektif akan pentingnya nilai-nilai kebangsaan, terutama bagi generasi milenial yang sering kali tergerus oleh perkembangan zaman dan globalisasi. “Ini bukan hanya soal lagu, tetapi soal menjaga rasa cinta tanah air dan mengingatkan kita akan perjuangan para pahlawan,” ujar Kawendra
Kawendra, yang baru saja terpilih sebagai Anggota DPR-RI untuk periode 2024-2029, memiliki misi untuk mendorong pemerintah dan masyarakat agar lebih memperhatikan pentingnya kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga berharap, dengan kebiasaan menyanyikan Indonesia Raya setiap pagi, semangat persatuan dan kesatuan bangsa bisa terus terjaga, terlepas dari perbedaan suku, agama, dan budaya yang ada.
“Lagu Indonesia Raya adalah simbol kebangsaan kita. Ketika kita mendengarnya, kita tidak hanya mengingat sejarah perjuangan bangsa ini, tetapi juga membangun rasa kebersamaan yang menyatukan kita semua,” tambah Kawendra.
Dukungan untuk Ekonomi Kreatif Indonesia
Selain mempromosikan semangat kebangsaan, Kawendra juga menyampaikan beberapa harapan penting mengenai pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Salah satu harapannya adalah agar pemerintah lebih mendukung perkembangan ekonomi kreatif melalui kebijakan yang lebih ramah terhadap para pelaku ekonomi kreatif. Dalam pandangan Kawendra, ekonomi kreatif adalah sektor yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian nasional, terutama di tengah pesatnya perkembangan industri digital.
“Ekonomi kreatif adalah masa depan ekonomi Indonesia. Kita memiliki sumber daya manusia yang kreatif dan berpotensi besar. Yang dibutuhkan sekarang adalah dukungan yang lebih dari pemerintah untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi perkembangan ekonomi kreatif, terutama di daerah-daerah,” ungkapnya.
Menurut Kawendra, salah satu langkah penting yang harus diambil oleh pemerintah adalah dengan memfasilitasi dan mendorong pembentukan Peraturan Daerah (Perda) yang mendukung pelaku ekonomi kreatif di tingkat daerah. Ia menekankan bahwa kebijakan yang ada di pusat perlu diimbangi dengan kebijakan lokal yang dapat memperkuat sektor ekonomi kreatif, terutama di daerah-daerah yang memiliki potensi besar namun belum digarap secara maksimal.
Pentingnya perhatian terhadap ekonomi kreatif ini juga sejalan dengan misi Kawendra sebagai Ketua Umum Gekrafs. Sebagai organisasi yang berfokus pada pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia, Gekrafs telah banyak melakukan berbagai program untuk memajukan sektor ini, mulai dari pelatihan bagi para pelaku usaha kreatif hingga penciptaan jaringan yang bisa mempertemukan pelaku industri kreatif dengan berbagai peluang pasar.
Peran Hekrafnas dalam Memajukan Ekonomi Kreatif
Selain itu, Kawendra juga melihat acara Hari Ekonomi Kreatif Nasional (Hekrafnas) sebagai momentum penting untuk memajukan ekonomi kreatif di Indonesia. Menurutnya, Hekrafnas bisa menjadi ajang untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dalam bidang ekonomi kreatif, seperti seni, desain, musik, film, kuliner, dan lain sebagainya.
“Hekrafnas adalah kesempatan bagi kita untuk mempromosikan karya anak bangsa dan memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam dunia ekonomi kreatif. Melalui ajang ini, kita berharap bisa menarik lebih banyak perhatian dan investasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” kata Kawendra.
Ia juga berharap agar Hekrafnas tidak hanya menjadi sebuah acara seremonial, tetapi juga bisa menjadi ajang yang memberikan dampak nyata bagi para pelaku ekonomi kreatif, terutama dalam membuka akses pasar dan pendanaan. Kawendra yakin bahwa sektor ekonomi kreatif, jika dikelola dengan baik, bisa menjadi salah satu pilar utama dalam perekonomian Indonesia di masa depan.
Melihat dari Perspektif Denny Syah Putra
Di sisi lain, Ketua DPW Sulawesi Tengah, Denny Syah Putra, yang juga turut mengapresiasi langkah-langkah yang diambil oleh Kawendra Lukistian, melihat hal ini dari sudut pandang yang lebih mendalam. Denny menilai, penyanyian lagu Indonesia Raya setiap pagi tidak hanya penting untuk menjaga semangat kebangsaan, tetapi juga sebagai pengingat bagi generasi milenial yang semakin lama semakin melupakan sejarah bangsa dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Sebagai seorang seniman yang aktif di ibu kota serta daerahnya Sulawesi Tengah, Denny merasa prihatin dengan fenomena yang berkembang di kalangan generasi muda saat ini.
“Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu pesat, kita sering kali melupakan sejarah dan nilai-nilai kebangsaan kita. Banyak dari generasi milenial yang kini lebih terfokus pada tren-tren global tanpa menyadari betapa pentingnya untuk menghargai tanah air kita,” ungkap Denny kepada media ini pada Minggu (29/12/24).
Ia melanjutkan Kebiasaan menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap pagi di kantor, perusahaan, atau komunitas bisa menjadi cara yang sederhana namun efektif untuk mengingatkan kita semua tentang arti pentingnya kebangsaan. Ini bisa menjadi ajakan untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan dalam keberagaman.
Kebiasaan yang Mulai Hilang di Beberapa Sekolah
Denny juga mengungkapkan kekhawatirannya terkait kebiasaan yang mulai hilang di beberapa sekolah, seperti memberi salam kepada guru di pagi hari. Kebiasaan ini, menurutnya, dulu menjadi bagian dari budaya sekolah yang membantu menanamkan sikap hormat dan nilai-nilai moral pada generasi muda.
“Dulu, memberi salam kepada guru di pagi hari adalah hal yang sangat biasa dilakukan oleh para siswa. Itu adalah simbol penghormatan dan juga cara untuk memulai hari dengan semangat positif. Namun, kini kebiasaan itu mulai hilang di beberapa sekolah, dan itu sangat disayangkan,” ujar Denny.
Ia berpendapat bahwa kebiasaan-kebiasaan seperti ini, yang terlihat sepele namun memiliki makna mendalam, perlu diperkenalkan kembali kepada generasi muda agar mereka bisa lebih menghargai nilai-nilai moral dan budaya yang telah ada sejak lama.
Pentingnya Peran Semua Pihak dalam Menjaga Kebangsaan
Melihat fenomena ini, baik Kawendra Lukistian maupun Denny Syah Putra sepakat bahwa menjaga semangat kebangsaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau satu pihak saja. Semua elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga individu, memiliki peran penting dalam membangun dan menjaga nasionalisme.
Pemerintah, menurut Kawendra, perlu untuk lebih mengedepankan kebijakan yang mendukung perkembangan ekonomi kreatif dan kebudayaan, sementara masyarakat dan sektor swasta perlu berperan aktif dalam mendukung program-program yang ada. Di sisi lain, individu, terutama generasi muda, harus mulai menyadari pentingnya menjaga semangat kebangsaan melalui tindakan-tindakan sederhana namun bermakna, seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya, menghormati nilai-nilai budaya, dan menjaga rasa cinta tanah air.
Menjaga Warisan Bangsa dengan Tindakan Sehari-hari
Sebagai penutup, penting untuk diingat bahwa nasionalisme bukan hanya soal perayaan-perayaan besar atau simbol-simbol kebangsaan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh rasa hormat dan cinta terhadap bangsa ini. Kebiasaan menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap pagi, seperti yang digagas oleh Kawendra Lukistian, adalah salah satu cara untuk membangkitkan semangat kebangsaan yang harus dijaga dan dilestarikan oleh setiap lapisan masyarakat.
Dalam dunia yang semakin maju dan terhubung global, kita tidak boleh melupakan akar budaya dan identitas kebangsaan kita. Dengan mengingat dan menghargai sejarah, serta menjaga semangat persatuan dan kesatuan, Indonesia akan terus maju sebagai bangsa yang besar, kreatif, dan penuh potensi. (KB)






