Minggu, 7 Juni 2026

Anwar Hafid Buka Suara Soal Polemik Jabat Tangan dengan Massa HMI Tolitoli

Anwar Hafid
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, mengulurkan tangan kepada salah seorang massa aksi HMI Cabang Tolitoli saat demonstrasi penolakan PETI di Tolitoli. FOTO: Tangkapan layar Video

PALU,netiz.idGubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, akhirnya buka suara terkait polemik yang muncul setelah beredarnya video viral yang memperlihatkan momen ketegangan antara dirinya dan massa aksi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tolitoli saat demonstrasi penolakan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Video berdurasi 1 menit 29 detik yang beredar luas di media sosial memicu beragam tanggapan publik. Dalam potongan video tersebut terdengar ucapan, “Jabat tangan dulu de, kalau tidak kita pulang,” yang kemudian memunculkan tudingan adanya upaya pemaksaan terhadap massa aksi.

Menanggapi hal itu, Anwar Hafid menegaskan bahwa persoalan tersebut sebenarnya telah selesai di lapangan dan tidak perlu lagi diperpanjang.

Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Sabtu (06/06/26), Anwar mengungkapkan bahwa sejumlah pimpinan demonstrasi telah menemuinya sebelum ia meninggalkan Kabupaten Tolitoli menuju Kota Palu.

“Sebelum meninggalkan Tolitoli, beberapa pimpinan demo sudah menemui saya. Mereka meminta maaf, dan saya pun juga menyampaikan permintaan maaf. Selesai. Apalagi yang mau dipermasalahkan?” ujar Anwar.

Menurutnya, potongan video yang beredar tidak menggambarkan keseluruhan peristiwa yang terjadi saat itu. Ia menjelaskan bahwa dirinya justru mendatangi massa aksi dan berinisiatif mengulurkan tangan sebagai bentuk penghormatan serta iktikad baik.

“Saya mendatangi pendemo dan mengulurkan tangan dua kali untuk berjabat tangan, tetapi yang memakai atribut HMI tidak mau menerima uluran tangan saya. Jadi saya bilang, kalau begitu saya pulang, tidak usah juga dengar tuntutanmu,” jelasnya.

Anwar membantah keras anggapan bahwa dirinya melakukan pemaksaan terhadap mahasiswa yang menyampaikan aspirasi. Ia menegaskan bahwa uluran tangan yang diberikannya dilakukan secara tulus dan tanpa tekanan apa pun.

“Tidak ada yang saya paksakan. Saya mengulurkan tangan dengan tulus dan ikhlas, itu bisa dilihat dalam rekaman. Karena uluran tangan itu tidak diterima, saya bilang kalau begitu saya juga tidak mau mendengar tuntutanmu, karena menurut saya tidak ada attitude atau etika sama sekali,” tegasnya.

Mantan Bupati Morowali dua periode itu juga meminta masyarakat untuk melihat video secara utuh dan tidak hanya berpatokan pada potongan-potongan rekaman yang beredar di media sosial. Menurutnya, pemahaman yang tidak lengkap terhadap suatu peristiwa berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Sebelumnya, polemik tersebut mencuat setelah demonstrasi penolakan PETI di Tolitoli berujung ricuh. Sejumlah pihak bahkan mendesak agar Gubernur Sulawesi Tengah dan Bupati Tolitoli menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas insiden yang terjadi.

Meski demikian, Anwar memastikan komunikasi dengan perwakilan massa aksi telah berlangsung dengan baik dan persoalan tersebut dianggap telah selesai oleh kedua belah pihak. (KB/*)