PALU, NETIZ – Fenomena iklim El Niño 2026 Sulawesi Tengah diprediksi mencapai intensitas sangat kuat hingga 75 persen yang berdampak pada kekeringan ekstrem sejak pertengahan Juli 2026. Kondisi ini memicu berkurangnya curah hujan secara drastis di wilayah Sulawesi Tengah bagian barat termasuk Kabupaten Donggala dan Parigi Moutong.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa El Niño 2026 Sulawesi Tengah ditandai dengan indeks Nino 3.4 yang mencapai +2,26. Angka tersebut menunjukkan kategori kuat yang menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya hingga awal tahun 2027.
“BMKG secara aktif berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memitigasi dampak El Niño yang saat ini mencapai intensitas sangat kuat,” kata Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG.
Pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional menyebutkan fenomena El Niño 2026 Sulawesi Tengah berkembang lebih cepat daripada tahun 2023. Hal ini berpotensi meningkatkan status menjadi Super El Niño pada Agustus 2026 yang berisiko memperluas titik panas kebakaran hutan dan lahan.
“El Niño 2026 berkembang lebih cepat dibandingkan 2023 dan berpotensi menjadi Super El Niño pada Agustus 2026,” kata Prof. Dr. Erma Yulihastin, Pakar klimatologi BRIN.
Dampak nyata dari El Niño 2026 Sulawesi Tengah mulai terlihat pada penurunan ketersediaan air bersih dan potensi gangguan operasional PLTA akibat menyusutnya debit air bendungan. Sektor pertanian juga terancam sehingga petani diminta segera menyesuaikan jadwal tanam dengan varietas yang tahan kering.
“Peringatan dini kekeringan meteorologis berlaku untuk beberapa kabupaten/kota di Sulawesi Tengah pada Dasarian III Juli 2026,” tulis BMKG dalam laporan resmi. (KB/*)





