Sabtu, 25 Juli 2026

Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 Capai 5 Persen di Tengah Tekanan Minyak Dunia

Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026

JAKARTA, NETIZ – Bank Dunia dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 menetapkan proyeksi ekonomi Indonesia 2026 tumbuh sebesar 5,0 persen di tengah ketidakpastian kondisi moneter global. Angka ini menunjukkan ketahanan ekonomi domestik meskipun menghadapi risiko eksternal dari lonjakan harga minyak mentah Brent yang mencapai USD94 per barel.

Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi pemerintah yang diperkirakan tumbuh tinggi mencapai 8,7 persen. Namun, proyeksi ekonomi Indonesia 2026 ini sedikit melambat dibandingkan periode sebelumnya karena tekanan pada sektor dan ekspor akibat gejolak geopolitik global yang belum mereda.

Laporan dari World Bank menyebutkan bahwa pertumbuhan produk domestik bruto diperkirakan akan kembali meningkat menjadi 5,2 persen pada rentang 2027 hingga 2028. Stabilitas konsumsi swasta yang terjaga di level 5,0 persen menjadi pilar utama penopang ekonomi dalam jangka panjang.

“Pertumbuhan PDB diproyeksikan akan melambat menjadi 5,0 persen di tahun 2026, seiring dengan tekanan eksternal yang membebani investasi dan ekspor, kemudian menjadi 5,2 persen pada tahun 2027-2028,” tulis laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terpantau melemah ke level Rp17.979 per USD pada 24/07 seiring dengan memanasnya konflik di Timur Tengah. Kondisi ini membuat tetap mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen guna menjaga stabilitas proyeksi ekonomi Indonesia 2026 dan mengendalikan laju inflasi.

“Gerak rupiah tertekan oleh sentimen memanasnya konflik geopolitik antara AS-Iran yang berdampak pada pasokan minyak dunia,” kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.

Pemerintah terus memantau ruang fiskal yang terbatas akibat beban subsidi energi yang meningkat seiring kenaikan harga minyak mentah dunia. Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci utama agar proyeksi ekonomi Indonesia 2026 tetap berada pada jalur yang diharapkan oleh para pelaku pasar global. (KB/*)