Sabtu, 25 Juli 2026

Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026: Bank Dunia Ramal Pertumbuhan 5,0 Persen

Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026

JAKARTA, NETIZ – Bank Dunia merilis Proyeksi Ekonomi 2026 sebesar 5,0 persen melalui laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 yang dipublikasikan pada 14/06. Meski tetap positif, pertumbuhan ini dibayangi risiko harga minyak mentah Brent yang menyentuh angka USD94 per barel atau setara Rp1,69 juta.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa pertumbuhan PDB nasional diperkirakan akan meningkat tipis menjadi 5,2 persen pada periode hingga 2028. Peningkatan ini ditopang oleh konsumsi pemerintah yang diprediksi tumbuh 8,7 persen serta konsumsi swasta yang stabil di angka 5,0 persen.

Namun, Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 tetap menghadapi tantangan besar dari sisi eksternal seperti ketatnya moneter global. Tekanan geopolitik antara dan Iran turut memicu ketidakpastian pasar yang berimbas pada kinerja ekspor dan investasi domestik.

“Pertumbuhan PDB diproyeksikan akan melambat menjadi 5,0 persen di , seiring dengan tekanan eksternal yang membebani investasi dan ekspor,” tulis laporan resmi Bank Dunia.

Di sisi lain, nilai tukar Rupiah tercatat sempat melemah ke level Rp17.979 per dolar AS pada 24/07 akibat sentimen global. Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 persen.

“Gerak rupiah tertekan oleh sentimen memanasnya konflik geopolitik antara AS-Iran yang berdampak pada pasokan minyak dunia,” kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.

Secara keseluruhan, Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 menunjukkan resiliensi ekonomi nasional di tengah keterbatasan ruang fiskal. Pemerintah perlu mewaspadai kenaikan beban subsidi energi seiring dengan harga minyak dunia yang tetap tinggi demi menjaga target tetap terkendali. (KB/*)