PARIGIMOUTONG,netiz.id – Jembatan bersejarah peninggalan Belanda yang terletak di Desa Palasa, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, ambruk akibat banjir bandang pada Kamis (13/03/25) malam.
Jembatan yang dikenal masyarakat sebagai Jembatan Belanda itu roboh sekitar pukul 22.00 WITA setelah diterjang derasnya arus banjir. Berdasarkan pantauan di lokasi, jembatan yang berstatus Cagar Budaya Kabupaten Parigi Moutong ini bergeser sekitar dua meter dari posisi awalnya. Beruntung, tidak ada korban luka maupun jiwa dalam peristiwa ini.
Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong, Moh. Taufan, berharap material jembatan tetap dijaga untuk kemungkinan dilakukan restorasi.
“Material jembatan harus dijaga oleh pemerintah setempat sambil menunggu langkah yang akan diambil oleh pemerintah provinsi dan kabupaten,” ujar Taufan, dikutip dari Media Zona Sulawesi.
Diketahui, jembatan tersebut telah berusia 89 tahun dan menjadi salah satu saksi sejarah peninggalan kolonial di wilayah tersebut.
Selain merobohkan jembatan, banjir bandang juga menyebabkan Sungai Besar Palasa meluap, merendam permukiman warga di Desa Bambasiang dan Dusun 2, Desa Ogoansam. Air mulai meluap sekitar pukul 20.44 WITA, mengakibatkan sebagian rumah warga terendam.
Beberapa warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang mereka akibat cepatnya arus banjir. Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa, namun puluhan warga terdampak, terutama di Dusun 2, Desa Ogoansam, telah mengungsi ke rumah sanak saudara di daerah yang lebih aman.
BPBD Sulteng melaporkan bahwa di Desa Bambasiang, empat rumah hanyut, sementara enam unit rumah lainnya terdampak banjir.
Di Desa Ogoansam, sebanyak 50 unit rumah terdampak, dengan 30 rumah di antaranya mengalami kerusakan berat.
“Sekitar 50 kepala keluarga di Desa Ogoansam mengungsi. Sementara untuk di Desa Bambasiang, pendataan masih berlangsung,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Sulteng, Aktris Fattah Yunus.
Aktris menambahkan bahwa banjir juga mengakibatkan terputusnya akses jalan dari Desa Ogoansam ke Desa Bambasiang, sehingga aktivitas warga terganggu.
Hingga kini, BPBD Sulteng masih melakukan proses assessment dan berkoordinasi dengan BPBD Parigi Moutong serta pemerintah desa setempat untuk langkah penanganan lebih lanjut. (KB/ZS).






