JAKARTA, NETIZ – Pergerakan harga minyak dunia mengalami koreksi ke kisaran USD 85 hingga USD 93 per barel pada 27/07/2026 setelah sempat melonjak tajam akibat eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Penurunan ini dipicu oleh jeda serangan di kawasan Laut Merah meski pasar tetap mewaspadai gangguan pasokan energi global di masa depan.
Data perdagangan menunjukkan harga Brent berada di level USD 92,91 per barel atau turun sebesar 5,56 persen. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI tercatat di angka USD 85,44 per barel setelah sebelumnya sempat menembus angka psikologis USD 100. Penurunan harga ini terekam dalam indeks Bloomberg yang menunjukkan adanya volatilitas tinggi di bursa New York dan London.
Konflik geopolitik menjadi faktor utama yang memengaruhi fluktuasi harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir. Serangan kelompok Houthi terhadap kapal tanker Saudi Encela dan Laylia di Laut Merah sempat memicu kekhawatiran blokade jalur ekspor utama. Gangguan pelayaran di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb menjadi ancaman serius bagi stabilitas distribusi minyak mentah ke seluruh dunia.
“Tidak ada yang lebih disukai pasar ini selain harapan. Tidak ada yang ingin tertipu, jadi setiap petunjuk bahwa situasi ini mungkin bisa diselesaikan, akan dimanfaatkan pasar,” kata John Kilduff, Mitra Again Capital.
“Secara keseluruhan, persediaan minyak masih cukup ketat. Situasi ini bisa berubah dengan sangat cepat, sehingga perkembangan ke depan perlu terus dicermati,” kata Phil Flynn, Analis Senior Price Futures Group.
Lonjakan harga minyak dunia ini dikhawatirkan akan memicu inflasi di negara importir besar seperti Indonesia. Pemerintah perlu mengantisipasi risiko kenaikan harga BBM karena Indonesia mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan minyak mentahnya. Meski harga saat ini melandai, tren gejolak di Timur Tengah diprediksi masih akan membayangi pasar keuangan global. (KB/*)





