JAKARTA, NETIZ – Kurs Rupiah bergerak melemah terhadap dolar AS hingga menyentuh kisaran Rp17.963 hingga Rp17.985 pada perdagangan Senin pagi, 27/07. Pelemahan tajam ini dipicu oleh kombinasi kenaikan harga minyak dunia serta sentimen domestik terkait mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo. Investor cenderung melakukan aksi jual seiring meningkatnya risiko ketidakpastian kebijakan moneter di Indonesia.
Data pasar spot Bloomberg mencatat mata uang Garuda berada di posisi Rp17.969 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB. Kondisi ini memperlihatkan tren depresiasi tahunan yang mencapai 9,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kurs Rupiah kini mendekati level psikologis Rp18.000 setelah sebelumnya sempat menyentuh angka Rp18.314 pada pertengahan Juli.
Sejumlah perbankan nasional mulai menyesuaikan nilai tukar mereka mengikuti fluktuasi pasar yang sangat dinamis. PT Bank Central Asia Tbk menetapkan kurs jual e-rate pada angka Rp17.991, sedangkan Bank Mandiri mematok harga jual special rate sebesar Rp17.995 per dolar AS. BRI dan BNI juga melaporkan angka jual yang berada di atas Rp17.980 pada perdagangan hari ini.
“Rupiah akan terus tertekan seiring dengan belum meredanya konflik di Timur Tengah. Gangguan pelayaran dapat memaksa kapal tanker mengubah rute, memperpanjang perjalanan dan meningkatkan biaya pengiriman,” kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Sentimen negatif global ini juga berdampak pada kinerja pasar modal dalam negeri secara keseluruhan. Pelemahan Kurs Rupiah menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ikut tertekan turun hampir 2 persen menuju level 6.185. Pemerintah saat ini mewaspadai potensi pembengkakan subsidi energi dalam APBN jika nilai tukar tidak segera stabil.
“Sentimen pasar didukung oleh laporan bahwa Pakistan dan Iran sedang menjajaki pembicaraan damai baru dengan AS dan bahwa ekspor minyak dari Timur Tengah terus mengalir,” kata Analis Westpac, dalam laporan risetnya.
Meskipun ada upaya diplomasi di tingkat internasional, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas Kurs Rupiah dari guncangan eksternal yang lebih dalam. Otoritas moneter berkomitmen untuk terus melakukan intervensi di pasar valas demi menjaga kepercayaan investor global. (KB/*)





