Sabtu, 8 Agustus 2026

IHSG Melemah ke Level 6.185 Tertekan Mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo

IHSG Melemah

JAKARTA, NETIZ – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia mengalami tekanan hebat pada pembukaan perdagangan Senin pagi, 27/07. IHSG Melemah signifikan ke kisaran .185 hingga 6.196 poin atau turun hampir ,88 persen dibandingkan sebelumnya. Penurunan tajam ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal berupa ketegangan geopolitik dan sentimen domestik terkait pergantian mendadak pucuk pimpinan otoritas moneter.

Tekanan jual melanda pasar saham setelah investor merespons kenaikan harga minyak dunia yang sempat menembus USD 100 per barel. Selain itu, konflik antara dan Iran serta penetapan tarif impor baru dari Washington memperburuk kondisi pasar global. Sentimen negatif ini diperparah dengan profit taking investor setelah indeks sempat menembus level psikologis 6.400 pada pekan sebelumnya.

Kondisi IHSG Melemah semakin diperburuk oleh pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, yang menciptakan ketidakpastian bagi pelaku pasar. Keputusan tersebut membuat nilai tukar Rupiah ikut tertekan hingga berada di level Rp 17.955 sampai Rp 17.990 per USD. Investor kini terus memantau arah kebijakan moneter yang akan diambil oleh pelaksana tugas gubernur untuk menstabilkan pasar.

“IHSG masih berpotensi menguat dengan kecenderungan terbatas. IHSG akan bergerak di level support 5.987 dan level resistance di 6.268,” kata Herditya Wicaksana, Analis MNC Sekuritas.

Berdasarkan data perdagangan, kapitalisasi pasar saat ini tercatat sebesar Rp 10.870 triliun meski volume transaksi harian melonjak hingga 43,68 miliar saham. Sektor consumer cyclical menjadi yang paling terdampak dengan koreksi mencapai 3,04 persen di tengah situasi IHSG Melemah ini. Saham unggulan seperti BBCA dan BMRI turut parkir di zona merah, sementara BBRI mencatatkan penguatan tipis 0,34 persen.

“Pengunduran diri Gubernur BI dapat memicu tekanan jangka pendek, meningkatkan volatilitas dan sikap risk-off. Koreksi diperkirakan terbatas 1 sampai 2 persen jika kepastian kebijakan cepat tercapai,” kata Elandry Pratama, Branch Manager Panin Sekuritas.

Meski terjadi aksi jual asing yang mencapai Rp 79,09 triliun sepanjang tahun 2026, analis melihat level support kritis tetap berada di angka 6.000. Investor disarankan tetap waspada dan mencermati sektor energi serta perbankan yang sangat sensitif terhadap dinamika harga minyak dan kebijakan suku bunga. Kepastian figur pengganti pimpinan BI menjadi kunci utama untuk meredam volatilitas pasar modal dalam waktu dekat. (KB/*)