JAKARTA, NETIZ – Nilai kurs rupiah hari ini terus tertekan hingga mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi, 27/07/2026. Pelemahan ini dipicu oleh tingginya harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah serta ketidakpastian domestik pasca mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.969 per dolar AS. Sementara itu, Bank Indonesia menetapkan kurs tengah pada level Rp17.915 dengan kurs jual mencapai Rp18.004 per dolar AS sebagai dampak dinamika pasar global.
Kondisi nilai kurs rupiah hari ini juga tercermin di sejumlah perbankan nasional yang mematok harga jual di kisaran Rp17.987 hingga Rp18.039. Bank Mandiri menetapkan special rate jual di angka Rp17.995, sedangkan BRI mematok harga jual tertinggi sebesar Rp18.039 per dolar AS bagi nasabahnya.
“Rupiah akan terus tertekan seiring dengan belum meredanya konflik di Timur Tengah. Gangguan pelayaran dapat memaksa kapal tanker mengubah rute, memperpanjang perjalanan dan meningkatkan biaya pengiriman,” kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Depresiasi tahunan yang mencapai 9,55 persen ini mulai berdampak signifikan pada stabilitas ekonomi nasional, terutama risiko inflasi impor pada sektor pangan dan energi. IHSG juga tercatat mengalami koreksi hampir 2 persen ke level 6.185 seiring dengan tren pelemahan nilai kurs rupiah hari ini di pasar spot.
“Sentimen pasar didukung oleh laporan bahwa Pakistan dan Iran sedang menjajaki pembicaraan damai baru dengan AS dan bahwa ekspor minyak dari Timur Tengah terus mengalir,” kata Analis Westpac.
Pemerintah dan otoritas moneter kini dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga stabilitas fiskal agar pelemahan tidak berlanjut ke level terendah sebelumnya di Rp18.314. Fokus utama pasar saat ini tertuju pada langkah strategis Bank Indonesia dalam merespons kekosongan kepemimpinan di tengah gejolak nilai kurs rupiah hari ini.





