Senin, 27 Juli 2026
Daerah  

Komunitas Difabel Berkarya, Ikut Ziarah di Petobo

Komunitas Difabel Berkaya ikut melaksanakan ziarah kubur kepada korban bencana alam liqufaksi, gempa dan stunami pada 28 September 2018 yang lalu, di pemakaman umum bersama di Petobo, Kamis, (28/9/23). Photo : Herni

PALU,netiz.id — Komunitas Difabel Berkaya ikut melaksanakan kepada korban bencana alam liqufaksi, gempa dan stunami pada 28 September yang lalu, di pemakaman umum bersama di Petobo, Kamis, (28/9/23)

Kegiatan ziarah dan doa bersama ini, dilakukan komunitas ini, setiap tahunnya pasca kejadian 2018. Pendamping Komunitas Difabel Wijaya Chandra mengungkapkan hal ini lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap korban dari mereka.

“Lima tahun sudah dilalui bersama bencana alam ini gempa, tentunya menyisakan kenangan,” ungkapnya.

Dia mengatakan inisiatif yang dilaksanakan saat ini, sudah lima tahun dilakulan. Dengan satu harapan dari mereka, dengan teriring doa dari hati yang tulus kepada semua yang merupakan korban yang merupakan sahabat, saudara yang telah mendahului.

“Semoga arwah diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan terlapas dari semua penderitaan. Kegiatan ini juga, untuk menguatkan keluarga korban,” kata Wijaya.

Mudah-mudahan kebersamaan saat ini lanjut Wijaya, serta doa dan harapan yang telah di lantunkan, bisa tetap berkarya bersama membangun kota Palu yang lebih baik lagi.

Selain kelompok difabel, keluarga dari korban juga turut hadir untuk mendoakan almarhum dan almarhuma.

Seperti, orang tua dari almarhuma Tita yang berasal dari desa Beka, mengungkapkan mereka selalu datang setiap tahunnya pada saat peringatan Gempa dan , untuk mendoakan dan melepas rindu kepada orang terkasih.

“Biasanya rame-rame kesini sama keluarga besar, tapi tahun ini cuma saya dengan papanya saja,” ujar Nurjanah.

Selain Nurjanah, ibu korban yang juga datang mendoakan anaknya yaitu Sintia , mengunkapakan jika dirinya datang untu berziarah sebelum melaksanakan doa bersama di rumah.

“Saya punya laki-laki, jadi korban liquifaksi di Petobo. Anak pertama, laki-laki satu-satunya,” katanya.

Dia menceritakan bahwa anaknya bekerja di Kalimantan, sang anak pulang ke Palu, hanya untuk meminta ibunya untuk melamar pacarnya. Tetapi ajal berkata lain, di menjadi salah satu korban. (TIM)