Menu

Mode Gelap

Nasional · 21 Nov 2024

Kementerian ATR/BPN Terima Rekomendasi Ombudsman RI untuk Atasi Masalah Tata Kelola Sawit


					Wakil Menteri (Wamen) ATR/Wakil Kepala (Waka) BPN Ossy Dermawan. FOTO: ist Perbesar

Wakil Menteri (Wamen) ATR/Wakil Kepala (Waka) BPN Ossy Dermawan. FOTO: ist

,netiz.idKementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), melalui Wakil Menteri () ATR/Wakil Kepala (Waka) Ossy Dermawan, menerima Laporan Hasil Kajian Sistemik tentang Pencegahan Maladministrasi dalam Tata Kelola Industri Kelapa Sawit dari Republik Indonesia (ORI) pada Senin (18/11/2024). Laporan ini menyoroti masalah tumpang tindih lahan perkebunan kelapa sawit dengan kawasan serta memberikan sejumlah rekomendasi untuk tata kelola.

Dalam laporan tersebut, Ombudsman RI meminta Kementerian ATR/BPN untuk mempercepat penyelesaian tumpang tindih lahan melalui kolaborasi lintas kementerian. Menanggapi hal ini, Wamen ATR/Waka BPN Ossy Dermawan menyatakan komitmennya untuk bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan, , dan instansi terkait lainnya.

“Dengan semangat meniadakan ego sektoral serta berpedoman pada visi dan misi Presiden Prabowo untuk menyejahterakan rakyat, kami yakin setiap permasalahan memiliki solusi. Sinergi antarlembaga menjadi kunci utama,” ujar Ossy saat berbicara di Kantor Ombudsman RI, Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa permasalahan lahan yang tumpang tindih tanpa hak atas masih menjadi kewenangan Kementerian Kehutanan. Namun, jika lahan tersebut telah memiliki hak atas tanah, Kementerian ATR/BPN akan berkoordinasi erat untuk mencari solusi yang tepat.

Selain itu, Ossy mengapresiasi langkah Ombudsman RI yang telah melakukan kajian sistemik terhadap tata kelola industri sawit. Kajian ini diharapkan dapat menjadikan kelapa sawit sebagai komoditas unggulan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Industri kelapa sawit adalah elemen penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan Presiden Prabowo. Dengan tata kelola yang baik, sawit dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan,” tambahnya.

Sementara itu, Anggota Ombudsman RI Yeka Hendra Fatika mengungkapkan bahwa perbaikan tata kelola sawit dapat memberikan dampak besar pada nilai industri.

“Jika tata kelola diperbaiki, ada potensi tambahan nilai hingga Rp300 triliun. Saat ini, kapasitas industri sawit berada di angka Rp729 triliun, dan bisa meningkat menjadi Rp1.008 triliun,” kata Yeka.

Hadir dalam pertemuan tersebut Direktur Pengaturan dan Penetapan Hak atas Tanah dan Ruang Hasan Basri, serta sejumlah pejabat dari kementerian dan lembaga lainnya yang turut menerima rekomendasi Ombudsman RI.

Rekomendasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperbaiki tata kelola industri sawit agar lebih berdaya saing dan mampu menjadi motor penggerak ekonomi . (*)

Artikel ini telah dibaca 79 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Menteri Nusron Wahid: 2026 Tak Boleh Ada Lagi Berkas Pertanahan Menumpuk

15 Januari 2026 - 06:30

nusron Wahid

Wamen ATR/BPN Tekankan Kekompakan Internal untuk Tingkatkan Pelayanan Pertanahan

15 Januari 2026 - 06:19

Wamen Ossy Dermawan

Sekjen ATR/BPN Tekankan Pentingnya Penyelarasan Kompetensi SDM

14 Januari 2026 - 19:24

ATR BPN RI

Wamen ATR/BPN: Sekolah Rakyat Bukti Negara Hadir untuk Anak Indonesia

14 Januari 2026 - 05:42

Wamen Ossy Dermawan

328 Ribu Hektare Lahan Swasembada di Papua Selatan Kantongi SK ATR/BPN

14 Januari 2026 - 05:36

Nusron Wahid

80 Persen Tanah Terdaftar, ATR/BPN Perkuat Pengawasan PPAT Lewat Pelantikan MPPP dan MPPW

13 Januari 2026 - 10:07

ATR BPN RI
Trending di Nasional