DONGGALA,netiz.id — Munculnya spanduk penolakan pemindahan operasional kapal PELNI (KM Labobar & KM Lambelu) ke Kabupaten Donggala/Pelabuhan Donggala Sulawesi Tengah mengundang reaksi dari masyarakat setempat, khususnya di Ibu Kota Kabupaten yang terletak di Kecamatan Banawa.
Anil Syamsuddin, warga Donggala dari Kecamatan Banawa, mengungkapkan antusiasme seluruh masyarakat Donggala, termasuk calon buruh bagasi, pedagang, dan sopir yang melayani rute Palu-Pasangkayu, Parigi, Tolitoli, Pantai Timur, Morowali, dan Mamuju, atas kembalinya operasional kapal KM Labobar dan KM Labobar di Pelabuhan Donggala.
“Pelabuhan Donggala yang megah dan luas ini, setelah sekian lama vakum, telah menghambat kemajuan Kota Donggala,” tutur Anil saat dikonfirmasi media ini pada Minggu (02/06/24).
Ia menambahkan bahwa beberapa dekade silam, Pelabuhan Penumpang di Pelabuhan Donggala direlokasi ke Pelabuhan Pantoloan. Saat itu, masyarakat Donggala menerima keputusan tersebut tanpa perlawanan.
“Kami patuh pada keputusan pemerintah, meskipun pahit untuk diterima. Pada masa itu, roda perekonomian Donggala, khususnya di Kecamatan Banawa, berjalan dengan baik. Namun, situasinya berbalik 180 derajat semenjak pemindahan pelabuhan penumpang ke Pantoloan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Anil menegaskan bahwa dia dan masyarakat Kabupaten Donggala mendesak pemerintah untuk segera meresmikan kembali Pelabuhan Penumpang di Kecamatan Banawa, Donggala. “Hal ini diharapkan dapat membangkitkan kembali roda perekonomian di Donggala,” pungkasnya.
Pemindahan operasional kapal PELNI ke Pelabuhan Donggala diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Donggala. Demikian Anil Syamsuddin. (KB/*)




