Menu

Mode Gelap

Nasional · 7 Nov 2025

Indonesia Rawan Bencana, Wamen ATR/BPN Tekankan Tata Ruang Berbasis Mitigasi Risiko


					Para perwakilan kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian ATR/BPN, BNPB, BMKG, Kemenag, Kemen PPPA, dan Kemensos RI, menghadiri Rapat Kerja dan RDP Tim Pengawas Penanganan Bencana DPR RI di Gedung Nusantara II, Jakarta. FOTO: istimewa Perbesar

Para perwakilan kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian ATR/BPN, BNPB, BMKG, Kemenag, Kemen PPPA, dan Kemensos RI, menghadiri Rapat Kerja dan RDP Tim Pengawas Penanganan Bencana DPR RI di Gedung Nusantara II, Jakarta. FOTO: istimewa

JAKARTA,netiz.id — Menjelang , ancaman bencana alam kembali mengintai berbagai wilayah di Indonesia. Di tengah meningkatnya kerentanan itu, pemerintah menegaskan bahwa perencanaan tata ruang berbasis mitigasi risiko menjadi kunci utama dalam mengurangi dampak bencana yang setiap tahun terus menghantui.

Penegasan tersebut disampaikan Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang (Wamen ATR)/Wakil Kepala (Waka ), Ossy Dermawan, dalam Rapat Kerja dan Tim Pengawas terhadap Pelaksanaan Penanganan Bencana, Rabu (05/11/25) di DPR RI, Jakarta.

“Tata ruang punya peran sentral dalam penanganan bencana. Pada tahap pra-bencana, ia menjadi instrumen untuk mencegah dan meminimalkan risiko. Sementara pada tahap pascabencana, tata ruang menjadi acuan rekonstruksi agar pembangunan kembali berjalan aman dan terarah,” tegas Ossy.

Salah satu langkah konkret Kementerian ATR/BPN adalah penyusunan Peta Zona Rawan Bencana , —wilayah yang pernah mengalami bencana dahsyat pada . Melalui penggabungan berbagai peta bahaya dan potensi bencana, disusun empat kategori zona, mulai dari zona pengembangan hingga zona terlarang.

“Peta ini bukan sekadar dokumen. Ia harus menjadi pedoman bagi pemerintah dan lembaga terkait dalam rehabilitasi dan rekonstruksi Palu. Dengan begitu, kita benar-benar menerapkan tata ruang berbasis disaster risk reduction,” jelasnya.

Dalam rapat tersebut, Pengawas Penanganan Bencana Alam DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, mengumpulkan para menteri, wakil menteri, dan pimpinan lembaga untuk membahas strategi menghadapi bencana yang semakin kompleks. Ia mengingatkan bahwa dampak bencana bukan hanya kerugian fisik, tetapi juga menyentuh aspek psikologis dan sosial-ekonomi masyarakat.

“Karena itu, kita butuh komando operasi terpadu yang jelas dan efektif agar seluruh tahapan penanganan bencana terintegrasi,” ujarnya.

Dengan semakin seringnya bencana terjadi, pemerintah menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk memperkuat kesiapsiagaan. Langkah itu menjadi krusial agar Indonesia tidak sekadar merespons bencana, tetapi mampu membangun sistem yang lebih tangguh dan adaptif di masa depan. (KB/*)

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

ATR/BPN Lantik Tiga Pejabat, Menteri Nusron Tekankan Rotasi Jabatan

26 Januari 2026 - 06:22

atr bpn ri

MoU ATR/BPN dan Kementerian Kehutanan Jadi Dasar Penyelesaian Konflik Agraria

25 Januari 2026 - 07:47

Menteri Nusron Wahid

HGU di Lahan TNI AU Dicabut, Negara Selamatkan Aset Rp14,5 Triliun

24 Januari 2026 - 18:13

Menteri Nusron Wahid

Menteri ATR/BPN: Reforma Agraria Dimulai dari Kepastian TORA

24 Januari 2026 - 06:45

menteri nusron wahid

ATR/BPN dan DPR Bahas Penataan Kawasan Perbatasan Negara

23 Januari 2026 - 06:10

Wamen Ossy Dermawan

Menteri ATR/BPN Sebut 4,09 Juta Hektare Kawasan Hutan Berhasil Dikuasai Kembali

23 Januari 2026 - 05:49

Menteri Nusron Wahid
Trending di Nasional