PALU,netiz.id — Meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi pada akhir tahun menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Hal itu ditandai dengan pelaksanaan Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi serta Pengamanan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Lapangan Pogombo, Senin (15/12/25).
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, mengingatkan bahwa kekayaan alam Sulawesi Tengah harus diimbangi dengan kewaspadaan tinggi terhadap ancaman bencana. Ia menyebut, banjir, tanah longsor, hingga gelombang pasang merupakan risiko yang kerap meningkat saat musim hujan.
Data BPBD menunjukkan tren peningkatan kejadian bencana dari tahun ke tahun. Sepanjang 2025 hingga November, tercatat 256 kejadian bencana atau meningkat sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menegaskan pentingnya kesiapan sejak dini.
“Siaga sebelum bencana harus menjadi budaya kerja dan budaya hidup,” tegas Wakil Gubernur. Ia menilai, kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Mengacu pada prakiraan BMKG, peningkatan curah hujan pada periode Desember 2025 hingga Februari 2026 berpotensi memperbesar risiko bencana hidrometeorologi. Karena itu, apel kesiapsiagaan menjadi momentum memperkuat koordinasi, mengecek kesiapan peralatan, serta memastikan respons cepat jika bencana terjadi.
Di saat yang sama, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah juga menaruh perhatian pada pengamanan Natal dan Tahun Baru agar berlangsung aman, tertib, dan penuh kerukunan. Wakil Gubernur mengajak seluruh pihak menjaga persatuan serta menguatkan semangat Berani Tangguh demi melindungi masyarakat Sulawesi Tengah dari ancaman bencana. (KB/*)




