PALU,netiz.id — Rencana pembangunan smelter hijau di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) ternyata telah disiapkan sejak tahun 2023. Proyek ini menjadi bagian dari pengembangan kawasan industri NEPIE yang diarahkan untuk memperkuat hilirisasi nikel nasional dan mendukung industri kendaraan listrik.
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menegaskan bahwa perencanaan PSN smelter Parimo sudah ada jauh sebelum dirinya menjabat sebagai gubernur. Smelter tersebut dirancang sebagai green industry, berbeda dengan smelter konvensional yang kerap dikaitkan dengan polusi lingkungan.
“Jauh sebelum saya menjadi gubernur, PSN di Parigi Moutong sudah direncanakan. Smelter yang dibangun adalah industri hijau, tidak seperti smelter di Morowali yang menimbulkan asap dan pencemaran udara,” ujar Anwar Hafid kepada wartawan usai mengikuti RUPS Bank Sulteng di salah satu hotel di Palu, Rabu (04/02/26).
Menurut Anwar Hafid, smelter Parimo nantinya akan berfungsi sebagai industri hilir yang mengolah nikel setengah jadi dari Morowali menjadi bahan baku siap pakai untuk industri baterai dan mobil listrik. Skema ini dinilai strategis karena mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Sulawesi Tengah.
“Di Morowali bahan mentah diolah menjadi nikel setengah jadi. Selanjutnya bahan tersebut dibawa ke Parigi Moutong untuk diolah menjadi produk jadi bagi kebutuhan industri baterai dan kendaraan listrik,” jelas mantan anggota Komisi V DPR RI itu.
Anwar Hafid juga meluruskan pernyataannya saat masa kampanye yang kerap ditafsirkan sebagai penolakan terhadap industri smelter. Ia menegaskan, yang ia tolak adalah model smelter yang menghasilkan asap hitam, polusi udara, dan merusak lingkungan.
“Kalau smelter hijau tentu saya dukung. Ini industri masa depan dan tidak menggunakan batu bara seperti smelter lama,” tegasnya.
Senada dengan Gubernur, Bupati Parigi Moutong Erwin Burase mengatakan bahwa rencana PSN industri smelter di Parimo sudah berlangsung sejak lama, namun realisasinya berjalan bertahap.
“Ini bukan proyek baru. Pembangunan akan dimulai setelah ketersediaan lahan mencapai 1.000 hektare. Saat ini baru sekitar 300 hektare yang tersedia,” ujar Erwin Burase.
Terkait akses infrastruktur, baik Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah maupun Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong memastikan bahwa pihak perusahaan akan membangun tiga ruas jalan penghubung dari kawasan industri di Kecamatan Siniu menuju Pelabuhan Pantoloan, Palu. Salah satu jalur yang direncanakan adalah Parigi–Sigi dengan jarak sekitar 20 kilometer.
Proyek smelter hijau Parimo akan dikerjakan oleh PT Anugrah Tekhnik Industri (ATHI), anak perusahaan PT Anugrah Neo Energy Materials (Neo Energy). Saat ini, luas awal kawasan industri yang telah tersedia mencapai sekitar 20 hektare, dan pembangunan kantor kawasan industri sebagai syarat keberlanjutan izin telah mulai dilakukan.
Dengan konsep green smelter, PSN Parigi Moutong diharapkan mampu mendorong investasi, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat posisi Sulawesi Tengah sebagai pusat industri nikel berkelanjutan untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik nasional. (KB/*)




