PALU,netiz.id — Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, menyerukan pentingnya menempatkan isu lingkungan sebagai bagian integral dari nilai-nilai keagamaan. Dalam orasi ilmiahnya pada Wisuda ke-45 UIN Datokarama Palu, Minggu (02/11/25), ia menegaskan bahwa krisis ekologi adalah ancaman kemanusiaan yang lebih besar daripada perang.
Menurutnya, dunia Islam harus tampil di garda depan dalam menyuarakan kepedulian terhadap alam. Ia menyebut konsep “Ekoteologi” sebagai paradigma baru yang menggabungkan spiritualitas, etika, dan tanggung jawab ekologis.
“Ekoteologi bukan sekadar menghijaukan kampus, tetapi menghijaukan hati dan pikiran manusia. Alam bukan objek, tapi mitra kehidupan,” ujar Prof. Nasaruddin.
Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga mengisahkan pertemuannya dengan Paus Fransiskus di Vatikan, di mana keduanya menandatangani Deklarasi Istiqlal tentang perdamaian lintas iman dan kelestarian bumi.
“Ketika agama kehilangan kasih, ia kehilangan Tuhan. Maka mencintai alam adalah bagian dari mencintai Sang Pencipta,” tambahnya.
Gagasan ekoteologi yang diangkat Nasaruddin mendapat sambutan luas dari kalangan akademisi dan mahasiswa. Rektor UIN Datokarama Palu, Prof. Dr. Lukman S. Thahir, menilai orasi tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu dan iman harus hadir untuk menyembuhkan bumi.
“Ini bukan hanya pesan teologis, tetapi panggilan moral bagi perguruan tinggi Islam untuk menjadi pelopor gerakan hijau,” ujar Rektor Lukman.
Konsep ekoteologi yang diusung Menteri Agama itu diharapkan dapat menjadi arah baru pendidikan Islam di Indonesia, yang tidak hanya melahirkan sarjana cerdas secara intelektual, tetapi juga sadar ekologis dan berjiwa rahmatan lil ‘alamin. (KB/*)




