PALU,netiz.id – Wakil Wali Kota Palu, dr. Reny A. Lamadjido, menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, termasuk mendorong pengembangan rumah sakit bertaraf internasional di Sulawesi Tengah. Hal ini disampaikannya dalam acara pelantikan dan rapat kerja Himpunan Perawat Manajer Indonesia (HPMI) Sulawesi Tengah.
Menurutnya, salah satu langkah awal dalam mewujudkan rumah sakit bertaraf internasional adalah dengan memperbaiki sistem pelayanan dan administrasi di rumah sakit daerah. Ia menyoroti pentingnya pelayanan yang ramah, profesional, dan efisien, terutama di bagian front office.
“Saya menyampaikan kepada teman-teman di Rumah Sakit Undata, tolong front office-nya itu diperbaiki mulai dari senyumnya, mulai dari sapanya. Tidak ada lagi bahasa yang kurang sopan kepada pasien, tetapi harus menggunakan bahasa yang ramah dan profesional,” ujar, Rabu (12/02/25).
Selain itu, ia juga menekankan perlunya pembenahan sistem pelayanan bagi pasien dengan penyakit tertentu, seperti hipertensi dan ibu hamil, agar lebih cepat dan efektif.
“Dulu di Undata, kita sudah memisahkan loket-loket pelayanan untuk pasien lansia, ibu hamil, dan anak-anak agar mereka tidak perlu antre terlalu lama. Hal seperti ini harus kembali diterapkan agar pelayanan menjadi lebih baik,” jelasnya.
Wakil Wali Kota juga menyoroti kondisi Instalasi Gawat Darurat (IGD) di Rumah Sakit Undata yang dinilainya perlu dioptimalkan.
“Saya sudah melihat IGD Undata, cukup bagus, tetapi sayangnya belum tertata dengan maksimal. Ke depan, kita harus menyusun standar operasional yang jelas, misalnya dalam waktu 15 menit pasien harus sudah mendapatkan pelayanan,” katanya.
Ia berharap, dengan adanya perbaikan layanan, Rumah Sakit Undata dan Madani dapat menjadi pusat rujukan utama di Sulawesi Tengah, sehingga masyarakat tidak perlu lagi dirujuk ke luar daerah seperti Gorontalo atau Manado.
“Kami ingin rumah sakit di Sulawesi Tengah bisa menjadi pusat rujukan sendiri. Jika ada kasus yang tidak bisa ditangani, maka dokter spesialis bisa kita datangkan, bukan pasien yang harus pergi ke luar daerah,” tegasnya.
Sebagai bagian dari peningkatan layanan, ia juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pembagian jasa pelayanan di rumah sakit.
“Saya tidak ingin ada lagi tenaga kesehatan yang merasa dirugikan karena pembagian jasa pelayanan yang tidak transparan. Karena itu, kita harus menggunakan sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) agar semua pembagian jasa bisa terlihat jelas dan adil,” ungkapnya.
Dengan berbagai upaya tersebut, dr. Reny A. Lamadjido optimistis bahwa pelayanan kesehatan di Palu dan Sulawesi Tengah dapat semakin baik dan mendekati standar rumah sakit bertaraf internasional. (Dg)




