DONGGALA,netiz.id — Banjir yang melanda Desa Malei dan Desa Palau, Kecamatan Balaesang Tanjung, mengakibatkan kerusakan dan kerugian yang signifikan. Tim reaksi cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) telah melakukan kaji cepat guna mengevaluasi dampak banjir tersebut.
Berdasarkan hasil kajian cepat, tercatat 28 unit rumah terdampak banjir, dengan lima unit rumah terkena dampak lumpur dan satu unit rumah mengalami kerusakan berat.
Selain itu, fasilitas umum juga terdampak, termasuk jembatan penghubung Desa Walandano – Malei, gereja, dan gedung SMPN SATAP 6 Balaesang Tanjung.
Kepala Pelaksana BPBD Sulteng, Akris Fattah, segera merespon laporan banjir pada Selasa (4/7) kemarin. Ia memerintahkan tim reaksi cepat BPBD Sulteng untuk turun langsung ke lapangan dan melakukan kajian cepat sebagai bagian dari komitmen penanggulangan bencana di wilayah Provinsi Sulteng.
Akris mengungkapkan bahwa BPBD Sulteng akan mempertimbangkan langkah-langkah penanganan lanjutan setelah melihat perkembangan di lapangan.
“Keputusan tersebut akan didasarkan pada tingkat dampak kerusakan terhadap kehidupan dan penghidupan masyarakat pasca bencana. Jika ditemukan bahwa penanganan segera tidak dapat ditunda dan berpotensi mengancam keselamatan serta perekonomian masyarakat, tindakan penanggulangan akan segera dilakukan,” Ucap mantan Kepala BPBD Donggala itu.
BPBD Sulteng terus memonitor situasi dan akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk menyediakan bantuan dan dukungan bagi korban banjir serta melakukan tindakan tanggap darurat guna memulihkan kondisi di wilayah terdampak. Demikian Kepala Pelaksana BPBD Sulteng.
Sebelumnya, intensitas hujan yang tinggi di Desa Palau sejak Senin (3/7/23) sore kemarin menyebabkan meluapnya Sungai Singkilat dan Sungai Malei. Banjir dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa terjadi, disertai dengan material lumpur yang berdampak pada pemukiman warga dan beberapa fasilitas umum. (KB)




