Menu

Mode Gelap

Daerah · 15 Sep 2025

PFI Palu Gelar Pameran Foto dan Diskusi Etika Liputan Bencana


					Sejumlah mahasiswa dan komunitas fotografi mengikuti diskusi kebencanaan dan etika liputan yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu dalam rangkaian pameran foto jurnalistik bertajuk “Asa di Atas Patahan” di Palu Grand Mall, Senin (15/09/25). FOTO: Mugni/ PFI PALU Perbesar

Sejumlah mahasiswa dan komunitas fotografi mengikuti diskusi kebencanaan dan etika liputan yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu dalam rangkaian pameran foto jurnalistik bertajuk “Asa di Atas Patahan” di Palu Grand Mall, Senin (15/09/25). FOTO: Mugni/ PFI PALU

,netiz.id — Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu tidak hanya membuka pameran foto jurnalistik bertajuk “Asa di Atas Patahan” yang menampilkan karya 25 pewarta foto dari dalam dan luar negeri, tetapi juga menggelar kebencanaan dan etika liputan di (PGM), Senin (15/09/25).

Diskusi menghadirkan Jefrianto dari Komunitas Historia serta pewarta foto senior ANTARA FOTO, Basri Marzuki, dengan peserta dari kalangan , komunitas fotografi, lembaga pers mahasiswa, hingga organisasi pers.

Dalam pemaparannya, Jefrianto menekankan pentingnya belajar dari sejarah kebencanaan, khususnya di wilayah rawan seperti Palu. Ia mengingatkan bahwa sebelum bencana , tsunami, dan likuefaksi 28 September , sebagian masyarakat belum mengetahui bahwa Palu pernah dilanda tsunami.

“Hidup di atas patahan harus membuat kita paham betul di mana kita tinggal. Kalau kita tidak belajar dari sejarah, maka nasib kita bisa sama dengan para sebelumnya,” ujarnya.

Ia menilai pameran foto yang PFI Palu bukan sekadar dokumentasi bencana, melainkan pengingat agar masyarakat selalu waspada dan siap menghadapi kemungkinan terburuk. “Foto-foto karya jurnalis ini adalah catatan sejarah yang harus terus ditampilkan agar generasi berikutnya tetap waspada,” tambahnya.

Sementara itu, Basri Marzuki menyoroti pentingnya etika dan teknik dalam meliput bencana. Menurutnya, liputan kebencanaan tidak cukup hanya menyajikan , tetapi juga harus menghadirkan empati serta mendorong perhatian publik terhadap para korban.

“Liputan bencana akan bermakna ketika mampu menghadirkan empati sekaligus mendorong perhatian publik terhadap nasib korban,” kata Basri.

Ia juga mengingatkan agar pewarta tidak terjebak dalam praktik eksploitasi kesedihan korban dengan menampilkan gambar tanpa persetujuan, terutama di ruang-ruang yang bersifat terbatas atau terlarang. “Padahal ada sisi lain dari bencana yang juga layak ditampilkan dan memiliki nilai jurnalistik,” ujarnya.

Basri menutup dengan pesan agar setiap karya foto jurnalistik selalu menjaga martabat subjek yang direkam, sehingga karya yang dihasilkan tidak hanya kuat secara visual tetapi juga etis dan berimbang. (KB/*)

Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Resmob Tadulako Amankan Pelaku Pencurian Brankas di Toko Bintang Palu

13 Januari 2026 - 19:04

Polresta Palu

Anwar Hafid Ungkap Bahaya Tambang Ilegal, Dorong Pengetatan Pengawasan KLH

13 Januari 2026 - 18:39

Gubernur Sulteng, Anwar Hafid

Gubernur Anwar Hafid dan Menteri KLH Sepakat Perketat Pengawasan Pertambangan di Sulteng

13 Januari 2026 - 15:09

Gubernur Sulteng, Anwar Hafid

Amankan Aset Negara, Kantor Pertanahan Donggala Serahkan Sertipikat BMN

13 Januari 2026 - 10:02

Kantah Donggala

DPRD Sulteng Ikut Pererat Kebersamaan Forkopimda di Jamuan Kodaeral VI

13 Januari 2026 - 06:24

DPRD SULTENG

Komisi III DPRD Sulteng Tekankan Keadilan DBH bagi Daerah Penghasil Nikel

13 Januari 2026 - 06:13

DPRD SULTENG
Trending di Daerah