Menu

Mode Gelap

Politik · 28 Jan 2026

Advokat Soroti Penetapan Tersangka Hogi Minaya: Terlalu Dipaksakan


					Sekretaris Bidang Hukum dan HAM DPW PKS Sulawesi Tengah, Moh. Ridwan Limonu, S.H., FOTO: PKS SULTENG Perbesar

Sekretaris Bidang Hukum dan HAM DPW PKS Sulawesi Tengah, Moh. Ridwan Limonu, S.H., FOTO: PKS SULTENG

,netiz.id — Penetapan Hogi Minaya, pria asal , , sebagai usai mengejar jambret menuai sorotan dari kalangan praktisi hukum. Salah satunya datang dari Moh. Ridwan Limonu, , Sekretaris Bidang Hukum dan HAM DPW yang juga berprofesi sebagai advokat.

Ridwan menilai penetapan status tersangka terhadap Hogi terkesan terlalu dipaksakan dan tidak mempertimbangkan secara utuh konteks peristiwa yang terjadi. Berdasarkan berbagai pemberitaan yang berkembang, ia berpandangan tindakan Hogi merupakan reaksi spontan atas kejahatan yang sedang berlangsung.

“Dari sudut pandang hukum pidana, tindakan yang dilakukan Hogi adalah bentuk upaya melindungi kehormatan, keselamatan, dan keamanan keluarganya dari ancaman pelaku kejahatan,” ujar Ridwan, sebagaimana rilis yang diterima media ini pada selasa (27/01/26).

Menurutnya, perbuatan Hogi dapat dikualifikasikan sebagai pembelaan terpaksa (noodweer), atau setidaknya pembelaan terpaksa yang melampaui batas (noodweer excess), yang secara hukum dapat menghapuskan pidana.

Ridwan juga mengkritisi langkah penyidik yang menetapkan Hogi sebagai tersangka meskipun telah mengantongi keterangan ahli. Ia menegaskan bahwa keterangan ahli seharusnya menjadi bahan pertimbangan, bukan satu-satunya dasar untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka.

seharusnya dilakukan secara hati-hati dan proporsional. Dalam kasus ini, menurut saya, unsur pidananya masih sangat diperdebatkan,” katanya.

Lebih lanjut, Ridwan menyebut bahwa jika proses hukum terhadap Hogi terus dilanjutkan, upaya hukum praperadilan dapat ditempuh sebagai bentuk kontrol terhadap tindakan penyidik. Praperadilan, kata dia, menjadi mekanisme penting untuk menguji sah atau tidaknya penetapan tersangka.

Advokat lintas provinsi ini bahkan menilai, pemidanaan terhadap Hogi berpotensi menjadi bentuk kriminalisasi terhadap korban kejahatan. Hal tersebut dinilainya bertentangan dengan asas keadilan, proporsionalitas, serta tujuan hukum pidana yang menempatkan pemidanaan sebagai ultimum remedium atau upaya terakhir.

“Secara hukum, Hogi tidak patut dimintai pertanggungjawaban pidana atas meninggalnya pelaku jambret. Perbuatannya dilakukan tanpa niat jahat, dalam kondisi psikis yang terguncang, dan sebagai respons terhadap serangan melawan hukum,” jelasnya.

Ia menambahkan, rangkaian peristiwa dalam kasus tersebut menunjukkan adanya keterputusan hubungan kausalitas akibat perbuatan pelaku kejahatan itu sendiri.

“Oleh karena itu, setiap bentuk pemidanaan terhadap Hogi merupakan kekeliruan dalam penerapan hukum dan berpotensi melanggar prinsip keadilan substantif,” tandas Ridwan. (KB/*)

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

PKS Sulteng Dorong Pembina UPA Produktif dan Kontributif

31 Januari 2026 - 13:29

PKS SULTENG

PSI Sulawesi Tengah Bidik Senayan, Ini Strategi Pasca Rakernas

27 Januari 2026 - 15:55

PSI SULTENG

Family Gathering Partai Keadilan Sejahtera, Apa Sih Urgensinya?

25 Januari 2026 - 15:34

Bunda Wiwik

PKS Sulteng Kembali Kirim Relawan ke Aceh, Nurhalis Nur Jalani Tugas Kemanusiaan

7 Januari 2026 - 13:49

PKS SULTENG

PAN Sulteng Doa Bersama Anak Yatim, Perkuat Kepedulian Sosial dan Kebersamaan

30 Desember 2025 - 15:21

PAN SULTENG

Subhi Tarik Diri, Musda Golkar Donggala Mengerucut

22 Desember 2025 - 20:16

Subhi
Trending di Politik