PALU,netiz.id — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus memperkuat integritas aparatur sipil negara (ASN) melalui pendekatan pembinaan karakter berbasis nilai-nilai spiritual. Salah satunya diwujudkan lewat pelaksanaan retret bagi pejabat yang beragama Nasrani sebagai bagian dari strategi membangun birokrasi yang bersih, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan publik.
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid bersama Wakil Gubernur dr. Reny A. Lamadjido menegaskan bahwa penguatan spiritual ASN menjadi fondasi penting dalam menjaga kejujuran, disiplin, serta tanggung jawab dalam menjalankan amanah jabatan.
Kegiatan retret ini digelar sejalan dengan pelaksanaan retret kepala organisasi perangkat daerah (OPD) beragama Islam yang sebelumnya dilaksanakan di Masjid Raya Baitul Khairaat. Melalui pendekatan lintas agama yang berimbang dan inklusif, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berupaya membangun karakter ASN secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Retret pejabat Nasrani diikuti oleh pejabat pimpinan tinggi pratama serta pejabat administrator eselon II dan III di lingkungan Pemprov Sulteng. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan iman sekaligus peneguhan integritas pejabat dalam menjalankan tugas pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.
Koordinator Retret Pejabat JPT dan Administrator Nasrani, Adiman, menjelaskan bahwa retret yang berlangsung sejak 30 Januari hingga 1 Februari tersebut bertujuan memperkuat spiritualitas pejabat sebagai landasan utama dalam pengambilan kebijakan. Dengan fondasi iman yang kuat, para pejabat diharapkan mampu menjaga kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab dalam setiap pelaksanaan tugas.
Selama retret, peserta mengikuti doa dan ibadah serta menerima pembekalan materi rohani dan kepemimpinan Kristen dari para pendeta. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya iman, karakter, dan kekuatan doa dalam menghadapi tantangan jabatan serta godaan duniawi yang berpotensi merusak integritas ASN.
Gubernur Anwar Hafid menegaskan bahwa retret lintas agama ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan ikhtiar membangun fondasi kepemimpinan yang bersih dan amanah. Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan kecakapan teknokratis, tetapi harus ditopang oleh kekuatan moral dan spiritual para pemimpinnya.
“Jika pemimpinnya takut kepada Tuhan, maka kebijakan yang diambil akan berpihak kepada kepentingan rakyat,” tegas Anwar Hafid pada Sabtu (31/01/26).
Melalui pendekatan ini, Pemprov Sulteng berharap nilai-nilai iman dapat menjadi benteng bagi ASN dari praktik-praktik yang merusak integritas, seperti korupsi, kelalaian dalam menjalankan tugas, serta rendahnya inovasi dalam pembangunan daerah. Selain itu, pembekalan moderasi beragama juga diharapkan melahirkan pejabat yang menjunjung tinggi toleransi dan melayani masyarakat secara adil tanpa diskriminasi.
“Melalui retret ini, kami membentuk karakter pejabat yang berintegritas dan akuntabel agar nilai spiritual benar-benar tercermin dalam kinerja dan pelayanan publik,” pungkas Adiman. (KB/*)




