DONGGALA,netiz.id – Peristiwa longsor yang terjadi di Desa Loli Saluran, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah sebuah video kejadian tersebut tersebar luas. Pasca viralnya video itu, PT Bosowa Tambang Indonesia dikabarkan berencana menggugat pihak yang merekam dan menyebarkannya.
Informasi mengenai rencana gugatan tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Loli Saluran, Agus Priyono, yang mengungkapkan bahwa seorang pegawai PT Bosowa Tambang Indonesia merasa dirugikan akibat viralnya video tersebut.
“Salah satu pegawai PT Bosowa Tambang Indonesia ingin menggugat warga yang menyebarkan video longsor di media sosial. Gara-gara video itu, banyak pihak menjadi heboh,” ujar Agus Priyono saat ditemui wartawan usai kegiatan Musrenbang di Kantor Kecamatan Banawa, Sabtu (15/02/25).
Agus menambahkan bahwa bukan hanya pihak perusahaan yang merasa terdampak, tetapi juga dirinya selaku kepala desa. Ia mengaku harus memberikan klarifikasi kepada berbagai pihak terkait video yang beredar tersebut.
“Saya sampai mengimbau masyarakat melalui masjid agar lebih bijak dalam menggunakan ponsel Android. Jangan sembarangan, karena ‘mulutmu adalah harimaumu’. Gara-gara video itu, saya ikut dibuat sibuk seperti jadi artis sehari. Saya dihubungi pemerintah provinsi, Pemda Donggala, dan tak henti-hentinya ditelepon wartawan,” ungkapnya.
Meski demikian, Agus menegaskan bahwa pihaknya tetap melindungi warga dan sudah memberikan teguran kepada pihak yang menyebarkan video tersebut. Bahkan, ia melarang pihak perusahaan untuk membawa kasus ini ke jalur hukum.
“Saya langsung melarang karyawan PT Bosowa Tambang Indonesia untuk melaporkan penyebar video. Saya bilang, tidak usah dilaporkan, karena hanya akan menimbulkan masalah baru,” tegasnya.
Terkait aktivitas pertambangan, Agus memastikan bahwa kegiatan tetap berjalan seperti biasa. Ia menyebut bahwa di Desa Loli Saluran terdapat lima perusahaan tambang yang masih aktif beroperasi.
“Semua perusahaan kembali bekerja seperti biasa. Lokasi longsor adalah wilayah tambang milik PT Bosowa Tambang Indonesia. Area tersebut memang tetap akan digarap, tinggal menunggu waktu saja. Longsor kemarin terjadi karena kondisi tanah yang sangat miring,” jelasnya.
Agus juga mengungkapkan bahwa di desanya terdapat lima perusahaan tambang yang aktif beroperasi, yaitu PT BRM, PT Bosowa Tambang Indonesia, PT Hamparan, PT Palu Batu Madu, serta CV Indologo yang masih dalam tahap penggarapan awal.
Dengan adanya peristiwa ini, Agus berharap semua pihak dapat lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial dan tidak langsung menyebarkan tanpa memahami dampak yang ditimbulkan. (KB/ANC)




