PALU,netiz.id — Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, menegaskan perlunya perubahan paradigma dalam pengelolaan masjid di Indonesia. Menurutnya, masjid modern tidak cukup hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga harus menjadi pusat pemberdayaan ekonomi dan sosial umat.
Pernyataan itu disampaikan Menag Nasaruddin saat meninjau progres pembangunan Masjid Raya Baitul Khairaat Palu, Minggu (02/11/25). Ia mencontohkan peran Masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW yang bukan hanya tempat salat, tetapi juga pusat pendidikan, kegiatan sosial, ekonomi, hingga pengadilan umat.
“Masjid harus hidup dan produktif. Di dalamnya bisa terjadi interaksi antara masyarakat kecil dan pemilik modal, antara pejabat dan rakyat. Dari sana lahir kolaborasi yang menyejahterakan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya desain masjid yang fungsional dan adaptif. Menurutnya, Masjid Raya Baitul Khairaat sudah mencerminkan konsep masjid modern yang ramah lingkungan, dengan ventilasi terbuka dan ruang serbaguna di bawah bangunan utama yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi umat.
“Akad nikah di atas, resepsi di bawah, itu sangat bagus. Dengan begitu, masjid bisa mandiri secara finansial tanpa selalu bergantung pada donatur,” tambahnya.
Pernyataan Menag Nasaruddin menjadi penegasan bahwa pembangunan masjid ke depan harus disertai visi pemberdayaan, bukan sekadar simbol kemegahan fisik, melainkan motor penggerak kesejahteraan masyarakat muslim. (KB/*)




