DONGGALA,netiz.id — Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, Dr. Syahriar, menjelaskan secara rinci masalah stunting yang terjadi di Kabupaten Donggala, termasuk data penyebaran stunting di 16 kecamatan.
Hal itu diungkapkan mantan Kepala Puskesmas Donggala dan Direktur RSUD Kabelota saat dikonfirmasi media ini. Senin (26/6/23)
Dr. Syahriar menjelaskan bahwa penyebaran stunting di 16 kecamatan Kabupaten Donggala mengalami penurunan dari 32,4% menjadi 19,6%. Namun, ketika dianalisis per kecamatan, kecamatan Pinembani menjadi daerah dengan tingkat stunting tertinggi, mencapai 42,2%. Kecamatan Sindue berada di peringkat kedua dengan persentase 32,1%, sedangkan kecamatan Banawa Selatan berada di peringkat ketiga dengan persentase 31,4%.
Dr. Syahriar juga mengatakan bahwa dalam penyebaran data stunting, Dinas Kesehatan menggunakan EPPGM berbasis masyarakat yang memberikan informasi secara real-time dan berdasarkan fakta lapangan. Namun, sistem SSGI hanya memperbarui data setahun sekali, sehingga terjadi kesalahpahaman dalam komunikasi.
“Kecamatan Banawa, yang juga merupakan ibu kota Kabupaten Donggala, menempati peringkat ketiga belas dengan persentase penyebaran stunting sebesar 13,1%. Sedangkan kecamatan dengan angka stunting paling rendah adalah kecamatan Sirenja, dengan persentase 4,4%.” Ucapnya
Dr. Syahriar mengungkapkan bahwa ada kemungkinan pihak Kecamatan Banawa menggunakan data tahun 2022 yang dikeluarkan oleh SSGI. Namun, jika mencari penderita stunting di bawah usia tersebut, tidak akan ditemukan, karena kondisi stunting hanya dinilai hingga usia 5 tahun. Setelah usia tersebut, kasus stunting tidak lagi masuk dalam data.
Terakhir, Dr. Syahriar menekankan perlunya intervensi sejak dini dalam penanganan stunting, seperti program imunisasi calon pengantin sebelum hamil, pemeriksaan kehamilan secara rutin saat hamil, serta memberikan ASI dan memantau perkembangan bayi saat lahir. Demikian Kepala Dinas Kesehatan Donggala. (KB/*)




