PALU,netiz.id — Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. Anwar Hafid, mengibaratkan kekayaan sumber daya alam (SDA) di daerahnya sebagai “gadis cantik” yang harus dijaga dengan penuh kasih sayang, bukan dieksploitasi secara serampangan. Pernyataan itu ia sampaikan saat menjadi narasumber pada Seminar Nasional Dies Natalis ke-44 Fakultas Hukum Universitas Tadulako (Untad) dengan tema “Transformasi Hukum, Menjaga Warisan, Menjawab Tantangan Global” di Swiss-Belhotel Silae, Palu, Sabtu (30/08/25).
“Kita ini orang tuanya. Kalau ada yang melamar, kita izinkan. Tapi jangan sampai anak kita berdarah. Sekarang saya lihat gadis ini sudah mulai pucat karena penambangan serampangan. Kalau dibiarkan, lama-lama mati. Maka saya bilang, kalau perusahaan datang hanya mau ambil untung, lebih baik tinggalkan. Tapi kalau betul-betul sayang, mari kita jaga bersama,” ujar Anwar Hafid.
Dalam forum yang juga dihadiri Rektor Untad Prof. Dr. Ir. Amar, ST., MT., IPU., ASEAN Eng, Dirjen AHU Kementerian Hukum dan HAM Dr. Widodo, SH, MH, serta pimpinan Forkopimda Sulteng, Anwar menekankan pentingnya kejelasan kewenangan daerah dalam pengawasan SDA, terutama sektor pertambangan.
Menurutnya, banyak permasalahan lingkungan seperti banjir dan longsor selalu dilimpahkan kepada kepala daerah, padahal kewenangan izin tambang berada di pemerintah pusat pasca terbitnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014.
“Kami tidak menuntut izin dikembalikan, tapi tolong beri kami kewenangan pengawasan yang jelas. Supaya kepala daerah bisa menghentikan kegiatan jika ada pelanggaran,” tegasnya.
Meski kewenangannya terbatas, Anwar memastikan tetap menjalankan peran sebagai wakil pemerintah pusat di daerah untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ia bahkan menegaskan tak segan menghentikan aktivitas perusahaan yang terbukti merusak.
“Saya pernah mencabut 125 izin tambang saat jadi Bupati Morowali. Sekarang pun, kalau saya lihat sungai sudah keruh, saya hentikan aktivitasnya,” katanya.
Selain menyoroti pengawasan, Gubernur Sulteng juga menekankan pentingnya pemanfaatan hasil tambang untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal. Ia menegaskan, perusahaan wajib menyalurkan CSR secara nyata, khususnya untuk pendidikan.
“Oke, sumber daya alam bisa habis, tapi tolong sisakan SDM yang tangguh. Saya sudah buka jalur kerjasama dengan PNUP, ITB, UGM, dan kampus lain agar anak-anak Sulawesi Tengah bisa belajar teknik pertambangan dan metalurgi. Saya ingin industri di sini dikuasai putra daerah, bukan orang luar semua,” tandasnya.
Sementara itu, Rektor Untad Prof. Amar menyatakan dukungan penuh terhadap program Berani Cerdas yang digagas Gubernur Anwar Hafid. Menurutnya, program beasiswa hingga 80 ribu mahasiswa menjadi langkah berani yang memberi harapan besar bagi generasi muda Sulteng.
“Harapan kami, lulusan Untad tidak hanya berbekal ijazah, tapi juga sertifikat profesi agar lebih siap menghadapi dunia kerja,” imbuhnya. (KB/*)




