DONGGALA pernah punya kebanggaan yang tak terbantahkan. Nama Persatuan Sepak Bola Indonesia Donggala (Persido) dahulu menjadi momok bagi lawan-lawannya di Sulawesi Tengah. Setiap kali tim kebanggaan masyarakat Banawa itu turun gelanggang, sorak dukungan publik seakan menyalakan api semangat di lapangan.
Namun, waktu bergulir. Kilau kejayaan itu kini hanya tersisa dalam cerita. Para pemerhati sepak bola masih mengingatnya, tetapi generasi muda seperti tak lagi merasakan gaung kebesaran yang dulu begitu membahana.
Musim lalu, dalam Piala Soeratin U-13 tahun 2024-2025, Persido harus puas angkat koper lebih awal setelah terhenti di fase grup. Musim 2025-2026 diharapkan menjadi kebangkitan. Akan tetapi, kenyataan berkata lain: pada laga perdana, anak-anak muda Donggala yang dibesut pelatih kepala Hery harus menyerah 0-5 dari Dharma Putra.
Pertanyaan pun menggantung: mungkinkah kejayaan itu kembali? Atau Persido hanya akan hidup sebagai kisah masa lalu?
Lebih dari sekadar skor, kekalahan ini adalah cermin dari minimnya perhatian terhadap pembinaan usia dini di Donggala. Tanpa dukungan serius, bakat-bakat muda hanya menjadi sekadar potensi yang tak pernah berkembang.
Di tengah lapangan yang berdebu, dengan jersey sederhana dan semangat yang kadang kalah oleh keterbatasan, anak-anak Persido masih mencoba menjaga api kecil itu tetap menyala. Mereka mungkin belum mampu mengulang kejayaan, tetapi di mata mereka tersimpan mimpi: suatu saat, dongeng indah Persido akan ditulis ulang oleh generasi baru. (KB)




