DONGGALA,netiz.id — Di tengah hamparan hijau kebun PT Lestari Tani Teladan, Donggala, Sulawesi Tengah, suara lantang anak-anak membaca terdengar dari sebuah bangunan sederhana. Bangunan itu adalah SD Lestari Tani Teladan (LTT), tempat Hasniati mengabdikan diri sebagai Kepala Sekolah.
Namun, kiprah Hasniati tidak berhenti di dunia pendidikan. Ia menjadi contoh nyata bagaimana perempuan mampu berdiri sejajar dengan laki-laki di lingkungan kerja yang selama ini didominasi oleh kaum pria.
“Bekerja dengan banyak rekan laki-laki tidak menjadi hambatan bagi saya. Kami saling belajar, saling mendukung, dan bekerja sama,” tutur Hasniati pada Sabtu (27/04/25).
Baginya, tantangan terbesar justru datang dari peran ganda yang ia emban: sebagai ibu rumah tangga dan sebagai wanita karier. “Keseimbangan adalah kunci,” tambahnya.
PT Lestari Tani Teladan, tempat Hasniati mengabdi, dinilainya sebagai perusahaan yang memberi ruang besar bagi perempuan untuk berkembang. Saat ini, banyak perempuan di perusahaan tersebut menduduki posisi strategis — sesuatu yang jarang ditemukan di sektor perkebunan beberapa dekade lalu.
Dukungan terhadap keterlibatan perempuan juga datang dari masyarakat sekitar. Kehadiran perempuan di dunia kerja perkebunan dinilai membuka lebih banyak peluang kerja bagi generasi muda, tanpa memandang gender.
Budaya patriarki yang dahulu mengakar perlahan mulai bergeser. Di tempat Hasniati bekerja, semua karyawan memiliki kesempatan dan tanggung jawab yang sama. “Kalau pekerjaan itu menjadi tanggung jawab saya, maka saya laksanakan seperti karyawan lainnya,” tegasnya.
Hasniati juga menyoroti pentingnya fasilitas pendukung perempuan, seperti ruang laktasi dan tempat penitipan anak, yang telah disediakan perusahaan. Baginya, fasilitas ini sangat membantu dalam menjalani peran ganda dengan lebih tenang.
Meski risiko bekerja di perkebunan tetap ada, Hasniati mengaku merasa aman berkat perhatian perusahaan terhadap keselamatan kerja. “Kami dilindungi, kami dihargai, dan kami diberi ruang,” ujarnya.
Di momentum Hari Kartini ini, Hasniati menjadi pengingat bahwa semangat emansipasi perempuan terus hidup dan berkembang, bahkan hingga ke kebun-kebun dan sekolah-sekolah di pedalaman.
“Kami mungkin tidak berjuang seperti Kartini di masa lalu, tetapi kami meneruskan semangatnya dengan bekerja, mendidik, dan menunjukkan bahwa perempuan bisa,” pungkasnya. (KB/UJS)




