Menu

Mode Gelap

Daerah · 19 Mei 2025

JUWITA Luncurkan Film Kopi Tua Desa Katu, Angkat Warisan Leluhur Tanah Poso


					Sejumlah tokoh masyarakat Desa Katu bersama tim produksi film dokumenter Perbesar

Sejumlah tokoh masyarakat Desa Katu bersama tim produksi film dokumenter "Kopi Tua Desa Katu" berfoto bersama usai acara nonton bareng dan diskusi film di Balai Desa Katu, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sabtu malam (17/05/25). FOTO: istimewa

,netiz.id — Di bawah langit malam yang tenang, gema suara layar tancap menggema di halaman Balai Desa. Sabtu malam (17/05/25), Perkumpulan Jurnalis Wanita Indonesia (JUWITA), bekerja sama dengan rumah produksi Alfatwa Multimedia, resmi meluncurkan film dokumenter berjudul Kopi Tua Desa Katu. Film ini membawa penonton menelusuri jejak sejarah, mengenang kisah perjuangan dan warisan kopi yang ditanam sejak masa kolonial di wilayah adat Katu, Kecamatan Lore Tengah, .

Acara peluncuran disambut antusias oleh setempat. Hadir dalam kesempatan itu berbagai elemen masyarakat, mulai dari Kepala dan Sekretaris Desa Katu, perangkat desa, tokoh adat, tokoh pemuda dan perempuan, hingga pegiat kopi Ade Cholik Mustaqim, serta Direktur (ROA), Mohammad Subarkan.

Setelah pemutaran film berdurasi 25 menit tersebut, terbuka digelar dengan moderator Yardin Hasan. Warga pun diberi ruang menyampaikan kesan, tanggapan, hingga kritik membangun atas film yang baru saja ditonton bersama.

Ketua JUWITA, Kartini Nainggolan, dalam keterangannya menegaskan bahwa film ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan wujud penghormatan terhadap warisan leluhur yang melekat kuat pada identitas Katu.

“Kopi tua ini bukan hanya tanaman, tapi simbol perjuangan, perjanjian leluhur, dan identitas. Kisah ini harus diangkat agar generasi muda tahu dan menghargai akar budaya mereka,” ucap Kartini.

Film Kopi Tua Desa Katu sendiri merupakan bagian dari proyek jurnalisme komunitas JUWITA, yang menyoroti isu-isu lokal dengan pendekatan visual dan naratif.

“Melalui film ini, kami ingin menghadirkan pengalaman bagi mereka yang belum pernah ke Katu, agar bisa ‘merasakan’ kopi tua itu melalui cerita visual yang autentik,” lanjut Kartini.

Warga pun menyambut hangat pemutaran film ini. Totua adat Desa Katu, Mature Rore, menyebut bahwa film ini menggambarkan sejarah perjuangan dan kebersamaan masyarakat adat mempertahankan wilayahnya.

“Bagi kami, kopi bukan sekadar minuman. Ia bagian dari perjuangan yang terus kami ingat,” katanya.

Golstar, tokoh pemuda Desa Katu, mengaku merasa termotivasi. Film ini, katanya, mengajak anak muda untuk lebih peduli terhadap warisan desa.

“Kami harus bangga dan menjaga apa yang sudah ada di desa kami,” tegasnya.

Senada, Menis Torae—perwakilan perempuan Desa Katu—mengungkapkan bahwa film ini memperlihatkan secara jelas lokasi kopi tua pertama kali ditanam, meski tempat itu sulit dijangkau.

“Saya sudah lebih dari 20 tahun tinggal di sini, tapi belum pernah ke lokasi pohon kopi tua karena medannya sangat berat,” ucapnya.

Dalam sesi diskusi, pegiat kopi Ade Cholik Mustaqim mengapresiasi film tersebut dan menekankan pentingnya pendampingan bagi masyarakat agar kopi tua Katu dapat dikembangkan menjadi produk unggulan yang dikenal luas.

“Desa Katu punya sejarah unik yang berpeluang besar mempromosikan kopi lokal berkualitas,” katanya.

Sementara itu, Direktur ROA, Mohammad Subarkan, menilai film ini bukan hanya tentang kopi, tapi juga potret utuh sebuah desa yang kaya sejarah dan budaya.

“Film ini jadi pintu masuk publik untuk mengenal Katu lebih dalam. Desa ini bukan sekadar penghasil kopi, tapi juga penjaga sejarah dan budaya,” ujarnya.

Subarkan juga mengapresiasi keterlibatan aktif warga dalam Tampo Lore dan menyampaikan bahwa film ini akan resmi diputar dalam festival tersebut pada akhir Juni 2025.

“Ini bukan hanya soal film atau kopi, tapi jati diri masyarakat Lore yang kuat dan sadar akan nilai budaya mereka sendiri,” tambahnya. (*)

Sinopsis Film:

Di balik lebatnya Lore Lindu, tersembunyi warisan yang nyaris terlupakan pohon-pohon kopi tua yang berdiri sejak zaman kolonial, menjadi saksi bisu perjalanan masyarakat adat Katu. Film ini menelusuri janji leluhur: kopi sebagai syarat kembali ke tanah adat yang pernah dirampas. Lebih dari dokumenter, ini adalah panggilan untuk menjaga karena warisan tak bertahan karena usia, tapi karena dijaga bersama.

Artikel ini telah dibaca 91 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Anwar Hafid Lantik 389 Pejabat Pemprov Sulteng, Tekankan Data, Digitalisasi, dan Prestasi

15 Januari 2026 - 17:01

Gubernur Sulteng, Anwar Hafid

Komisi IV DPRD Sulteng Pastikan Program 2026 Selaras Kebutuhan Masyarakat

15 Januari 2026 - 14:02

DPRD SULTENG

Gubernur Anwar Hafid Paparkan Hilirisasi Kelapa dan Pariwisata Danau Paisupok ke Bappenas

15 Januari 2026 - 11:31

Gubernur Sulteng, Anwar Hafid

Anwar Hafid Dorong Kolaborasi Pemprov Sulteng–ITB untuk Pendidikan, Riset, dan Tata Ruang

15 Januari 2026 - 08:03

Gubernur Sulteng, Anwar Hafid

Gubernur Sulteng Jajaki Kerja Sama Strategis dengan ITB, Fokus Beasiswa dan SDM

15 Januari 2026 - 06:25

gubernur sulteng, ANwar Hafid

Inflasi Sulteng Terkendali di Angka 3,31 Persen, TPID Perkuat Stok Pangan Hadapi Idul Fitri 2026

14 Januari 2026 - 19:32

Wagub Sulteng, Reny Lamadjido
Trending di Daerah