SIGI,netiz.id — Tokoh masyarakat Kabupaten Sigi, Mohamad Irwan Lapatta, mengajak generasi muda untuk berani menghadapi tantangan dan terus berkarya. Hal ini ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam kegiatan seni dan dialog bertajuk BOSARA (Bongi Mposarara), yang digelar DPC PAPPRI Kabupaten Sigi bersama kelompok pemuda Desa Lolu dan Mpanau.
Acara tersebut berlangsung pada Sabtu malam (02/08/25) di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Likuifaksi, Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru.
Dalam sesi talkshow bertema “Pemuda Kreatif: Bergerak, Bertumbuh, dan Berdampak,” Irwan memberi apresiasi atas inisiatif para pemuda yang mampu menyelenggarakan kegiatan seni secara mandiri tanpa sokongan dana pemerintah.
“Saya sangat menyambut baik kegiatan ini. Ini bentuk keberanian yang luar biasa. Kita tidak harus selalu bergantung pada siapa pun. Pemerintah memang jembatan, tapi bukan berarti kita menunggu bantuan setiap saat. Saya salut kepada teman-teman yang menginisiasi acara ini secara mandiri,” ucap Irwan di hadapan para peserta.
Ia mengingatkan bahwa tantangan adalah bagian dari proses menuju kemajuan, dan pemuda harus memiliki keberanian untuk mengambil langkah meskipun dengan keterbatasan.
“Jangan takut tantangan, jangan takut tidak punya uang. Hidup harus diperjuangkan. Pemuda Sigi punya kreativitas luar biasa tinggal bagaimana keberanian itu terus diasah dan diarahkan,” tambahnya.
Lebih lanjut, mantan Bupati Sigi dua periode (2016-2024) itu mendorong pemuda untuk membangun ruang-ruang seni dan kreativitas yang produktif, tanpa sekat wilayah administratif.
“Sigi itu satu. Tidak perlu terkotak-kotak antara Biromaru, Dolo, Marawola, Kulawi, atau Palolo. Semua adalah Sigi. Kita harus menyatu sebagai kekuatan kolektif,” tegas Irwan.
Ia juga mengenang upayanya saat masih menjabat sebagai bupati, termasuk pembangunan studio rekaman, penyediaan alat-alat seni, serta dukungan terhadap Dewan Kesenian dan PAPPRI untuk memajukan budaya lokal. Irwan berharap program-program tersebut bisa dilanjutkan oleh pemerintah saat ini.
“Saya ingin studio rekaman yang sudah ada bisa dilengkapi dengan alat modern dan tradisional, agar seniman kita bisa berkarya dan mandiri secara ekonomi,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua DPC PAPPRI Kabupaten Sigi, Yudhi Nugraha, menjelaskan bahwa kegiatan BOSARA merupakan ruang silaturahmi dan ekspresi seni anak muda. BOSARA, akronim dari Bongi Mposarara, berarti malam penuh persaudaraan.
“Kami ingin menyajikan karya-karya anak muda sebagai bentuk hiburan, ekspresi budaya, sekaligus mempererat solidaritas. Ini juga bagian dari upaya menghidupkan kembali ruang-ruang publik seperti Taman Likuifaksi agar benar-benar bermanfaat,” kata Yudhi.
Kegiatan BOSARA diakhiri dengan pertunjukan seni dari berbagai komunitas lokal serta sesi kolaboratif antar pemuda lintas desa. (KB/*)




