PALU,netiz.id — Suasana di arena karapan sapi Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, berubah riuh pada akhir pekan lalu. Di antara derap langkah sapi yang berpacu di lintasan tanah dan sorak sorai penonton, hadir sosok muda yang mencuri perhatian warga Rizky Lahadalia, putra dari Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia.
Rizky datang tanpa pengawalan, tanpa atribut pejabat, dan tanpa jarak. Mengenakan pakaian kasual dengan gaya sederhana, ia duduk di antara warga, tertawa, dan menikmati jalannya lomba bersama masyarakat. Pemandangan itu menjadi bukti bahwa kesederhanaan masih bisa menjadi jembatan antara tokoh publik dan rakyat.
Tradisi karapan sapi di Duyu memang selalu menjadi magnet bagi masyarakat. Tahun ini, kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, yang turut memberi semangat kepada para peserta. Deru tanah, teriakan penonton, dan irama musik tradisional berpadu menciptakan suasana penuh semangat dan kebersamaan.
Di sela-sela kegiatan, Rizky tampak berbincang akrab dengan Muhammad Fathur Razaq, tokoh muda Sulawesi Tengah sekaligus Ketua Rembuk Pemuda, yang juga sahabat masa kecilnya. Keduanya berbagi tawa dan menyapa warga di tepi arena.
“Rizky datang tanpa pengawalan, tanpa formalitas. Ia hanya ingin merasakan langsung suasana kebersamaan masyarakat. Ini contoh nyata kesederhanaan seorang tokoh muda,” ujar Fathur.
Warga yang hadir pun antusias. Banyak yang tak menyangka putra pejabat nasional itu begitu membumi. “Anaknya Pak Bahlil itu? Wah, ramah sekali. Tidak ada kesan sombong,” kata salah seorang warga dengan senyum kagum.
Hingga akhir lomba, Rizky tetap berada di tengah masyarakat menyemangati peserta, berfoto bersama warga, dan ikut tertawa saat beberapa momen lucu terjadi di arena. Kehadirannya seolah menjadi simbol bahwa kedekatan dengan rakyat tak harus ditunjukkan lewat pidato, melainkan melalui kehadiran yang tulus dan sederhana.
Di Duyu hari itu, Rizky Lahadalia bukan hanya penonton karapan sapi, tetapi juga cermin figur muda yang memahami arti kebersamaan dan nilai budaya lokal. (KB/*)




