PALU,netiz.id — Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Provinsi Sulawesi Tengah bersama Universitas Tadulako (Untad) memaparkan hasil riset evaluasi kinerja aparatur sipil negara (ASN) lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Seminar Hasil Riset “Kampung Berani Riset” yang digelar di Palu. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendukung program Berani Berintegritas Tahun 2025, terutama dalam memperkuat implementasi nilai-nilai dasar ASN, BerAKHLAK.
Pelaksana Tugas Kepala Brida Sulteng, Hasim R., saat membuka kegiatan mengatakan bahwa riset ini merupakan kolaborasi antara Brida, Untad, dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) untuk memperoleh gambaran objektif mengenai kinerja ASN, khususnya terkait internalisasi nilai BerAKHLAK. “Data yang digunakan merupakan hasil pengisian kuesioner yang telah dibagikan oleh BKD beberapa waktu lalu,” ujarnya.
Hasil riset menunjukkan bahwa budaya kerja ASN Provinsi Sulawesi Tengah berada pada kategori Tinggi hingga Sangat Tinggi. Dimensi loyalitas menjadi aspek paling menonjol, sementara akuntabilitas tercatat sebagai dimensi dengan skor relatif terendah. Peneliti Andi Chairil Furqan menjelaskan bahwa penilaian dilakukan menggunakan Core Values BerAKHLAK sebagai variabel utama.
Lebih jauh, riset mengidentifikasi adanya disparitas budaya kerja antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD), yang kemudian dikelompokkan ke dalam tiga zona kebijakan. Zona I dihuni OPD dengan budaya kerja sangat kuat dan matang, berfungsi sebagai benchmark internal Pemprov. Zona II mencakup OPD dengan kinerja baik namun belum stabil sepenuhnya, sehingga memerlukan penguatan kompetensi dan kolaborasi. Sementara Zona III merupakan OPD yang menghadapi risiko kinerja lebih tinggi akibat beban kerja, karakter tugas darurat, serta keterbatasan SDM.
Temuan riset juga memunculkan tiga implikasi manajerial penting: perlunya penguatan pembinaan nilai BerAKHLAK pada level sekretaris dan kepala bagian, pentingnya pimpinan menjadi role model dalam internalisasi nilai, serta fokus pelatihan BerAKHLAK yang diarahkan pada jabatan menengah ke bawah.
Peneliti lainnya, Muhammad Ichsan, memaparkan bahwa nilai BerAKHLAK ASN Sulteng secara umum telah berada pada kategori Tinggi, meski belum merata antar-OPD maupun antar-jenjang jabatan. “Beberapa OPD unggulan menunjukkan budaya kerja sangat baik, namun sebagian lainnya masih membutuhkan penguatan,” jelasnya pada Selasa (09/12/25).
Hasil uji t-test turut mengkonfirmasi adanya perbedaan signifikan antara skor pimpinan dan sekretaris/kabid, di mana pimpinan cenderung memiliki skor BerAKHLAK lebih tinggi. Hal ini menjadi dasar penting perlunya pimpinan ditetapkan sebagai figur teladan dalam internalisasi nilai.
Sejumlah rekomendasi disampaikan peneliti, di antaranya penguatan program internalisasi nilai BerAKHLAK, digitalisasi dan inovasi untuk meningkatkan nilai Adaptif, integrasi nilai BerAKHLAK dalam sistem penilaian kinerja ASN, serta peningkatan budaya kolaboratif lintas unit kerja. Selain itu, monitoring dan evaluasi berkala juga dinilai penting untuk memastikan implementasi BerAKHLAK berjalan konsisten.
Hasil riset yang telah disusun juga akan diserahkan kepada Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dalam bentuk policy brief sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan peningkatan kinerja ASN ke depan. (KB/*)




